“Keperluan Pak Daud untuk Pak Gubernur Rp 2,1 miliar lebih melalui rekening saya. Ramadhan Ibrahim total Rp 857 juta lebih. Saya yang transfer, perintah dari Pak Daud,” beber Renaldy.

Selain AGK dan ajudan, Renaldy juga mengaku melakukan transfer uang Rp 125 juta ke Idris Husen atas perintah Daud. Idris merupakan Direktur PT Pancona Katarabumi.

Sedangkan transfer ke Muhammad Nur Usman sebesar Rp 300 juta namun orangnya tidak dikenalnya.

“Untuk ke Deden ajudan AGK sebanyak tiga kali, total Rp 26 juta. Husri Lelean (ajudan AGK, red) Rp 100 juta lebih dan Wahidin Tahmid (mantan ajudan AGK, red) transfer Rp 150 juta namun tidak kenal,” sambung Renaldy.

Ia memaparkan, transfer untuk Zaldy Kasuba totalnya sekitar Rp 300 juta lebih, Ikbal Rp 100 juta lebih, Muhammad Fajrin (sekretaris pribadi AGK) total Rp 200 juta dan Muhammad Haikal Albar Rp 13,2 juta.

“Pak Daud punya (uang) semua, tidak ada duit pribadi saya di situ. Masih ingat sisa (saldo) Rp 30 juta lebih. Uang masuk ke rekening langsung keluar. Saya tidak nikmati. Dapat honor saja dari kantor. Uang masuk lebih banyak, perintah semua dikirim,” tambahnya.

Dia menjelaskan, pada saat ditangkap atau disergap KPK di jalan Terminal Cinta Kelurahan Maliaro, Kota Ternate, kartu ATM hitam tertulis Platinum ada di saku.

“Saya diperintah sama Pak Daud minta ATM warna hitam. Waktu ditangkap rekening ada di saya. Rekening diambil saat itu di saku celana
dan juga HP,” tuturnya.

Ia juga mengaku pernah tarik tunai atas perintah Daud sebanyak dua kali pada bulan yang berbeda. Penarikan di ATM sehari Rp 10 juta dan Rp 5 juta untuk membeli susu anak Daud. Kadang untuk isi minyak operasional mobil.

“Pak Daud yang kirim nomor rekening baru saya kirim. Saya juga dibelikan HP oleh Pak Daud karena HP saya sudah rusak. HP merek iPhone 13 Pro, Pak Daud yang belikan,” jelasnya.