Meskipun hanya satu contoh, tetapi industri bambu cukup menjadi jendela untuk memahami kondisi kita, dimana kemampuan dan produktivitas budaya budaya tempatan kita makin tergerus, punah. Apa yang terjadi kemudian yaitu ketergantungan terhadap produk dari luar Maluku Utara. Ketergantungan nyaris dalam segala aspek hidup. Mengingat kecepatan punahnya tanaman bambu seiring pembukaan lahan, tambang, pemukiman, disertai lemahnya kreativitas kita. Demikian halnya, hutan kayu Maluku Utara pun makin susut, jika masih ada. Akhirnya, sekadar menjadi bangsa yang penuh ketergantungan kepada produk dari luar, kepada orang lain. Saya tidak akan terkejut, suatu saat, mungkin tak lama lagi, bila kita akan memesan bambu dari provinsi lain di Indonesia.

​Dalam situasi seperti itu, apa yang mesti dilakukan? Bisakah anda berpikir? “Dolo Dolo Bambu” hanyalah jendela kecil untuk menatap apa yang akan terjadi ketika sekadar membutuhkan bambu pun harus didatangkan dari luar. Barangkali, kita memerlukan pemikiran utopia untuk mencegah kita terjerembab lebih jauh menjadi bangsa penuh ketergantungan. Berpikir dan bertindak utopis untuk mencegah kepunahan bambu, dengan cara memperlakukan budidaya dan pemeliharaan industri bambu sebagai bagian dari gerakan sosial dan gerakan lingkungan sekaligus. Berpikir dan bertindak utopis demikian akan “menciptakan peluang bagi berbagai “hal yang mungkin” guna melawan sikap pasif dan nrima atas keadaan aktual masa kini. …. mengatasi kelembaman [kemalasan] kodrati manusia, yang memberi manusia kemampuan baru, … untuk terus menerus membangun dunia manusiawi” (Ernst Cassirer, 1987:h.93). (*)