Mengutip beberapa sumber, masa kecilnya terbilang teramat menyedihkan, bukan kategori keluarga orang berduit, bahkan jauh dari kesan berkecukupan. Saat mendengar sedikit kisah masa kecil di keluarganya, saya sontak mengingat-ingat, merenungi kebesaran sang pencipta, membatin dengan kesadaran tertinggi betapa Tuhan itu benar-benar maha adil.

Suatu ketika saat kembali ke kampung halamannya di Tidore, dia mengingat karibnya semasa sekolah di sebuah sekolah menengah kejuruan di Tidore, yang status pemerintahannya masih sebuah daerah administratif. Kecamatan tidak, kabupaten bukan. Karibnya ini, konon seorang pemanjat kenari di kampungnya yang sering jadi santapan rutin “paling mewah” saat bersekolah. Tempat tinggalnya berpaut satu kampung dari kediaman “sang bos”, teman sekolahnya dulu.

Singkat cerita, orang dekat diutus untuk harus menemukan “kawan senasib dan sepenanggungannya” ini dan diantarkan ke kediamannya. Peluk cium, lepas kangen dan berkabar, berbuah sekantong rupiah bernilai besar disertai tawaran untuk membangun kembali kediaman tempat tinggalnya, yang dulu jadi “terminal” antar kampung berkendara sepeda. Sama seperti di kisah bupati HD tadi, tawaran ini ditolaknya dengan berbagai alasan.

Saya, dan mungkin juga banyak dari kita punya kesenangan membaca biografi para tokoh dan “orang sukses”, hingga mendengar cerita-cerita begini. Bagi saya, ada nilai kehidupan tertentu yang bisa saja jadi mutiara kehidupan. Tak mesti kita harus menjadi sukses, menyaingi level suksesnya. Jika tak kaya materi, mungkin cukup kaya hati. Menghadirkan rasa syukur atas setiap nikmat Tuhan itu ke dalam setiap kalbu.

Merenungi bagaimana dua tokoh ini memaknai perjalanan hidup mereka, saya sepintas mengingat karakter melankolis dalam kajian psikologi tentang karakter manusia yang di dominasi oleh jenis cairan dalam tubuhnya, yang membuatnya cenderung perasa, sensitif hingga kreatif dalam hubungan-hubungan sosial.

Seperti juga takdir atas diri setiap insan manusia dalam menggapai “hakikat diri”, merenungi perjalanan masa sukses setiap orang adalah kesadaran paling “primordial”nya. Sejatinya, jika telah merangkak hingga ke “puncak” maka tak ada pilihan lain kecuali merenungi kembali bata demi bata yang membentuk tangga kesuksesan menggapai hingga puncak itu. Kembali merenungi “asal diri” bisa bermakna tahu diri. Kebalikannya adalah lupa diri.

Tak banyak orang punya tipe begini, tak terkecuali orang berkatagori sukses sekalipun. Banyak dari orang sukses yang juga lupa diri, lupa pada susunan batu mana, ketika dia membutuhkan tangan orang lain untuk meletakannya setiap anak tangga kesuksesannya.