Oleh: Anwar Husen
Kolomnis/Tinggal di Tidore
_______
ORANG-orang sukses sering mereview kisah dan perjalanan karier mereka. Banyak yang mendokumentasikannya dalam bentuk biografi tetapi banyak juga yang hanya jadi bahan dan konsumsi cerita lepas di kedai-kedai kopi, di emperan jalan hingga di tiris-tiris rumah. Motivasi dan cara mereka mungkin berbeda meski ada pesan baik yang dikandung.
Memang, kisah begini bukan monopoli tokoh-tokoh ini. Setiap orang punya masa lalu, dengan segala pernak-pernik kisah yang menginspirasi. Kebetulan saja, inspirasi atas kisah ini saya dengar sendiri dari orang dekat yang mengetahuinya beberapa malam lalu di kediamannya bersama beberapa teman.
Tokoh yang satu ini, mantan bupati Halmahera Tengah dulu. Berasal dari sebuah kampung di Tidore. Sebut saja inisialnya HD. Menggapai puncak karier sebagai kepala daerah, diraihnya “begitu gampang”, semudah menemukan durian runtuh. Buah dari kisruh politik dan tarik-menarik yang panjang, mengantar sosok ini menjadi kepala daerah dengan cost politik nyaris nol rupiah. Beranjak dari karier awalnya “hanya” sebagai pejabat pemerintahan level menengah di provinsi Maluku kala itu.
Sang mantan bupati ini punya daya ingat yang terbilang cukup kuat, meski di usianya yang jelang senja. Pertemuan hingga pertautan dengan setiap orang di masa lalu yang panjang, di berbagai tempat dan latar sosialnya, masih diingatnya begitu runtut.
Alkisah di masa lalunya, puluhan tahun silam di masa sekolah menengahnya. Mengayuh sepeda bututnya selepas subuh dari kediaman orang tuanya, berjarak nyaris dua puluhan kilometer, sang mantan bupati ini terjatuh dari sepedanya dan tak sadarkan diri, di kampung sebelah yang berjarak masih di kisaran tujuh kilometer dari sekolahnya. Dia ditolong seorang ibu paruh baya dan diamankan beberapa waktu di rumahnya hingga berangsur pulih dan melanjutkan perjalanannya ke sekolah.
Di suatu saat, ketika masih menjabat bupati, beliau tiba-tiba mengingat kisah ini, di kediaman dinasnya, saat masih di Tidore, di kelurahan Gamtufkange. Spontan, staf di Bagian Umum kantor bupati, yang kebetulan warga kampung dari sang ibu yang menolongnya, diperintahkan menemuinya, setelah memastikan bahwa sang ibu ini masih ada. Sang ibu yang telah udzur ini dibawa ke kediaman bupati dan sang bupati yang “tahu berterima kasih” ini, memeluk haru sang ibu, yang telah disangga bantuan tongkat saat berjalan. Singkat cerita, sejumlah uang dengan nilai yang relatif besar untuk ukuran saat itu, plus satu dari dua anaknya yang belum bekerja selepas sekolah menengah, jadi pegawai pemerintahan di beberapa bulan berikutnya. Kebetulan juga, belum ada mekanisme dan sistem melamar jadi ASN seketat saat ini. Tawaran untuk merehabilitasi kediaman domisilinya, ditolaknya. Entah, mungkin karena merasa telah cukup dua “berkah” tadi.
Di kisah lain, masih dituturkan karib di teras kediamannya malam itu. Kali ini, dia mengutipnya dari orang dekat, sebut saja inisialnya AH. Yang pasti, bukan AH yang sedang menulis ini. Berasal dari sebuah kampung di Tidore, sosok ini bisa dibilang hartawan untuk ukuran orang berduit. Istilahnya, mungkin “unlimited” juga. Sekarang dia anggota DPR RI dari sebuah partai besar. Lama berkarier di Papua masa lalu.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.