Ada juga Joguru Abdullah bin Qadi Abdussalam (1712)-imam besar dari Tidore yang mampu menciptakan perubahan di Afrika Selatan setelah dibuang karena melawan kolonial. Belanda mengirimnya ke Cape Town untuk menghalangi interaksinya dengan Inggris dan masyarakat pribumi Tidore. Ia lalu menjadi katalisator penyebaran Islam di Afrika Selatan dan kini jumlah umat islam di negara itu sudah mencapai sekitar 5 persen dari perkiraan populasi Cape Town yang berjumlah 4,6 juta jiwa. Ia dipenjara di Pulau Robben dua kali pada 1780 hingga 1781 dan tahun 1786 dan 1791. Pulau Robben sendiri merupakan tempat ikon anti-apartheid, di mana Nelson Mandela juga dipenjara pada 1960-an hingga 1980-an.

Selama di tempat pembuangan, Tuan Guru Abdullah bin Qadi Abdussalam bahkan mampu menulis sebuah buku pelajaran bahasa Arab setebal 613 halaman yang berjudul Ma’rifat wal Iman wal Islam (Pengetahuan tentang Iman dan Agama) dari ingatannya. Buku ini kemudian menjadi panduan dasar tentang keyakinan Islam, yang digunakan selama lebih dari 100 tahun untuk mengajarkan umat Islam di Cape Town. Kitabnya bahkan hingga saat ini masih dalam kondisi baik dan dimiliki oleh keluarga Rakiep, keturunan Tuan Guru. Replikanya disimpan di perpustakaan nasional di Cape Town. Hingga sekarang Tuan Guru sangat dihormati di Afrika Selatan.

Ada juga kisah tentang AM Kamarudin alias Ali Soviet, Daniel Bohang, Ismail Sahjuan Sangadji (Tete Mael Digoel), dan Haji Salahuddin, yang tercatat menjadi bagian “orang buangan” ke pedalaman belantara rawa-rawa Boven Digoel, Papua karena melawan penjajah. Mereka ditempatkan bersama tokoh-tokoh bangsa Indonesia seperti Muhammad Hatta, Sutan Syahrir, I.F.M. Salim, adik dari Agus Salim dan Djeranding Abdurachman –wartawan yang membuat satu laporan kritis yang menyebutkan bahwasanya ada 1500 orang tahanan politik yang berada di Boven Digul. Laporan ini lalu termuat di surat kabar Soeara Ambon yang berbasis di Maluku dan dikutip banyak media di Eropa dan Amerika Serikat.

Jejak besar mereka-mereka itu, terpahat abadi hingga kini. Cahaya pikiran, gagasan dan karya mereka tetap gemerlap meski zaman dan waktu silih berganti. Rasa hormat dan cinta tumbuh dan makin kuat. Nama mereka makin bersinar.

Sahabatku Budi,
Saya mungkin satu dari sekian banyak orang yang percaya, bahwasa lokasi pembuangan bukanlah tempat yang bisa membunuh pikiran, mematikan kreativitas dan menahan gagasan. Lokasi pembuangan apapun itu bentuknya, justru bisa menumbuhkan gerakan perubahan, menciptakan kesadaran atas kebebasan dan berlanjut pada menjembatani aspirasi orang-orang di pinggir kota.

Saya percaya orang-orang yang berbeda sesungguhnya merupakan orang-orang yang kaya akan ide dan gagasan. Mampu menjaga nilai-nilai yang sebagian dari kita mungkin menganggap remeh. Orang yang berbeda adalah orang dengan kepribadian kuat dan profesional matang. Mampu memahami pengalaman keterasingan dan melakukan perjalanan sendirian ke belahan dunia yang jauh. Sebaliknya, mereka tidak pernah punya pilihan lain dalam hal ini; menjadi berbeda adalah sesuatu yang disodorkan kepada mereka.

Kita mungkin bisa marah, tetapi berbeda adalah kita. Badan mungkin bisa dibuang, namun ide dan pikiran, tetap bebas merdeka berkelana kemana saja, ia tak dapat dipenjara dan dibuang apalagi terus dikucilkan. Pikiran adalah sebuah hasil dari proses panjang pembuangan.

Surat ini menjadi nota kecil untuk anda dan mungkin kecintaan seorang sahabat atas kelebihan anda karena berbeda. Saya berharap nota ini bisa merangsang anda mendorong gerakan perubahan. Menjembatani aspirasi, kreativitas warga pinggir kota, dan tentu bisa menjadi perangsang dan semangat anda. Sekali lagi saya senang anda bisa menjadi orang seperti itu. Semoga Allah SWT selalu menjaga anda.

Salam