Karenanya ia tetap bekerja dan menghilangkan rasa dengki, iri hati dan marah. Ia bekerja seperti biasa, dan tidak ingin terus mengeluh. Melaksanakan tugasnya sebagai abdi negara, meski teman dan lingkungan tempatnya bekerja telah berubah. Ia memutuskan untuk menikmatinya hingga satu periode lamanya.
Si wanita ini lalu membentuk satu komunitas ibu-ibu “jaring ekonomi” di lokasi kerjanya yang baru. Membuat gerakan pemberdayaan ekonomi dengan memanfaatkan relasi sosial ibu-ibu desa. Menggunakan semua jejaring kuliah untuk membantu mengembangkan gerakannya. Ia lakukan rutin dan membuatnya hampir setahun tak pulang ke rumahnya yang terletak di pusat kota.
Alhasil gerakannya berkembang. Ibu-ibu desa semakin giat berkreatifitas. Memanfaatkan waktu untuk hal-hal positif. Desa tempatnya bekerja semakin hidup. Pergelaran budaya-ekonomi rutin dilakukan anak-anak muda. Tentu dengan partisipasi ibu-ibu desa. Ia pun semakin dicintai warga desa. Tak sedikit yang mengelu-elukannya, menghormati dan menyayangi. Ia melihat bahwasanya sifat suka berteman merupakan nilai tambah bagi orang lain, dan itu ia rasakan di tempat kerjanya yang baru.
Cerita itu adalah sedikit cerita tentang bagaimana “orang-orang aparatur yang dipindahkan lantaran perbedaan pilihan politik” namun dapat melakukan gerakan perubahan dalam struktur penindasan. Menciptakan kesadaran, kebebasan dan pada akhirnya melahirkan kecintaan, kemudian berlanjut dengan menjalin kehidupan sosial. “Orang-orang buangan” bisa menjembatani perbedaan cara pandang, dan meletakkan dasar bagi karakter ibu-ibu desa.
Sahabatku Budi yang baik,
Kita tahu Maluku Utara adalah satu dari sekian daerah di nusantara dengan sejuta cerita sejarah. Jauh sebelum cerita si wanita separuh baya yang karirnya berhenti lantaran perbedaan politik suaminya saat pemilihan kepala daerah, ada banyak tokoh “buangan” yang lahir dari daerah ini. Tak sedikit pula yang sampai bisa mengubah peradaban.
Anda ingat dengan Sultan Nuku (1978)–Sultan Tidore dengan gelar Muhammad Amiruddin Kaicil Paparangan. Dia adalah tokoh Tidore yang mampu membangun kekuatan militer, politik dan sosial dari daerah-daerah yang dianggap sebagai wilayah “buangan”. Dia adalah pemimpin pemberontakan yang sukses melawan Verenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) –Perusahaan Hindia Timur Belanda dan sekutu-sekutu pribuminya.
Melarikan diri dari Tidore dan mencari mencari perlindungan di Seram Bagian Timur, Halmahera, dan Raja Ampat. Melancarkan pemberontakan. Pada tahun 1797 dan kembali ke Tidore dengan pasukan sekutunya dan menaklukkan Kesultanan Bacan dan Tidore. Selama pengasingannya, Nuku melawan pasukan dari tiga Pemerintah VOC di Maluku: Ternate, Ambon, dan Banda. Nuku berhasil mengalahkan mereka. Dari daerah pembuangan ia melakukan perubahan.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.