Oleh: Budi Nurgianto
Mantan Wakil Wali Kota Jakofi
________
SAHABATKU Budi Janglaha. Saya sengaja menulis surat terbuka ini untuk anda di sela-sela perjalanan menuju Phuket, Thailand. Saya tergugah dengan unggahan status anda tentang “orang buangan”-sebuah diksi yang belakangan ramai digunakan untuk mengklasterisasi orang yang berbeda dalam banyak hal. Diksi yang sepintas lalu, terdengar miris dan mengenaskan, namun sesungguhnya banyak melahirkan tokoh-tokoh perubahan.
Sebagai teman, saya suka anda menjadi orang yang berbeda, meski beberapa konsekuensi selalu hadir. Bisa mendorong gerakan perubahaan bagi masyarakat di pinggir-pinggir kota. Memfasilitasi ide-ide sehat, mengukuhkan budaya dan semangat kebersamaan serta menguatkan tali persaudaraan, adalah cara kami bisa membedakan anda dengan orang lain. Saya senang anda bisa menjadi orang seperti itu. Dan jika itu anda dilakukan, saya iri melihatnya.
Sahabatku Budi,
Dalam banyak hal mungkin kita banyak berbeda, namun pada satu titik kita berdua sesungguhnya memiliki banyak kesamaan tak sekadar soal nama “budi”. Cara pandang kita melihat Ternate sama seperti memandang bagaimana membangun Ternate dengan kekuatan sosial, menguatkan peradaban, dan narasi-narasi puisi sebagai basis mendorong gerakan-gerakan publik. Itulah kesamaan saya dengan anda.
Percayalah suka atau tidak suka, ketika anda menjadi orang yang berbeda dalam beberapa hal, sesungguhnya itu merupakan suatu aset kuat untuk anda terutama dalam mendorong perubahan. Pada satu masa, kita semua pasti akan mengakui bahwa orang yang berbeda dan kerap dianggap sebagai “orang buangan” akan menarik banyak orang. Ketika anda berbeda, maka pada titik itulah anda akan menonjol, terlepas dari apakah anda mau atau tidak.
Sahabatku Budi,
Ada sebuah cerita dari negeri seberang–tempat di mana para pemikir nusantara saat ini sempat berkumpul, berpikir membangun peradaban, menggagas konsep perubahaan dan kebebasaan. Negeri ini dikenal dengan keramahannya, dan kita adalah bagian dari itu.
Pada satu waktu, seorang wanita separuh baya bercerita tentang nasib karirnya yang berhenti lantaran perbedaan politik suaminya saat pemilihan kepala daerah. Jagoan yang didukung suaminya kalah. Ia kemudian dimutasi menjadi staf dengan golongan cukup tinggi. Ia dipindahkan ke wilayah terpencil jauh dari kota akibat perbedaan pilihan itu. Jarak 6 jam perjalanan darat dan sesekali harus menempuh 1 jam untuk jalur yang belum beraspal menggunakan sepeda motor. Ia mengaku memerlukan uang Rp 200-300 ribu untuk sekali jalan atau Rp 700 ribu untuk pulang pergi. Itu belum termasuk biaya hidup di lokasi kerja barunya. Sementara gajinya yang diterima tinggal 3 juta per bulan.
Si wanita mengungkapkan sempat marah atas keputusan yang dianggap tak adil itu. Ia menilai keputusan pindah tugas karena perbedaan politik suaminya adalah keputusan paling konyol sepanjang ia berkarir sebagai abdi negara. Tapi ia kemudian memilih untuk tak ingin larut dan berdamai dengan perasaan itu. Baginya terus larut dalam perasaan atas keputusan yang dianggap tidak adil itu, hanya akan membuatnya tak bisa berpikir jernih dan bisa mempengaruhi semua keputusan hidupnya.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.