Ketegaran dan kekuatan dari semangatnya, ternyata tak cukup mampu untuk menyangga kondisi fisiknya yang makin melemah karena massa tubuhnya yang makin menurun itu.
Dini hari, di 1 Oktober, di pukul 02.00, dia menelepon saya meminta diantar kembali ke rumah orang tuanya. Itu dari kediaman mertuanya, yang selama ini, gigih memperjuangkan kesembuhannya. Saya bergegas menghampiri dan menenangkannya. Kami menuruti maunya di esoknya.
Di penghujung malam, Sabtu tanggal 11 Nopember, di sekitar 04.30 menjelang subuh, Sadam berpulang dengan tenang, di usia yang relatif muda, jelang 32 tahun. Menyudahi segala derita yang “dipeluknya” bertahun lamanya. Dia hanya “menitipkan” secuil pesan kehidupan untuk jadi pengingat di kala gundah, pesan tentang makna sabar, arti cinta sejati, optimisme dan berprasangka baik tentang takdir-Nya.
Sekali lagi, pelajaran tentang makna dan pernak-pernik kehidupan ternyata tak selalu datang dari orang-orang yang kita anggap hebat, bahkan mungkin pada sosok yang saban waktu menceramahi kita tentang ketegaran dan optimisme menghadapi kesulitan hidup sekalipun. Sesuatu yang mungkin terasa begitu mudah diucapkan tetapi belum tentu kita mampu menjalaninya. Apalagi jika ujian hidup itu adalah menahan derita di kala sakit yang menahun.
Dan pelajaran tentang makna hidup, kekuatan cinta dan kasih sayang, kesabaran yang sesungguhnya, tak harus di peroleh lewat mimbar-mimbar majelis ilmu hingga buku-buku best seller tentang motivasi hidup, di “tiris” kami, sebuah mahligai rumah tangga yang masih seumuran jagung, bisa “menasihati” kami tentang semua ini. Tulisan ini, setidaknya bisa jadi pelipur lara di kala mengenangnya. Wallahua’lam.
Selamat jalan, Sadam. Semoga Allah SWT memberimu sebaik-baiknya tempat di sisi-Nya. Aamiin. (*)


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.