Menahan derita sakit yang menahun menjelang dua tahun di pembaringan, yang secara medik menggerakkan anggota tubuhnya saja sudah sakit yang hebat. Kondisi ini membuat massa tubuhnya yang mulai menurun perlahan hingga ke “titik nadir”. Pilihan donor untuk mendongkrak HB-nya yang kadang merangsek hingga di “batas hidup”, telah berkali-kali dilakukan keluarga.
Saya, yang sering jadi tempatnya “berbagi”, hampir sulit didengar ada keluh kesah hingga mau “menyalahkan” takdir, misalnya. Masih terpantau di akun Facebooknya @Madaz_Muhammad, ” bercanda” dengan postingan-postingannya hingga mendoakan putri semata wayangnya di ulang tahunnya, dari sang istri Dahlia, warga kampung sebelah, Soasio. Jika tak mengetahui kondisinya, mungkin teman-temannya di jagat maya ini berpikir bahwa dia sedang baik-baik saja. Tak berkeluh kesah dengan sakitnya.
Terpantau, dia masih sempat berbagi sebuah kenangan di akunnya di tanggal 26 Oktober 2023, sebelum berpulang di 11 Nopember. Akun Facebook saya sendiri tak terhubung dengan akunnya. Saya baru benar-benar kaget ketika mengintip beranda akunnya. Ya kaget, karena saya tahu benar kondisi fisik dan efek sakit yang dideritanya, hal yang benar-benar bikin saya tercengang, karena saya membayangkan akan sangat sulit hal itu bisa dilakukan banyak orang dalam kondisi seperti dia. Tidak saja tercengang, saya ikut “remuk” di buatnya. Adalah manusiawi jika dibilang bahwa mereka tak sekadar sepupu tetapi telah jadi “belahan jiwa”. Tersakitinya mereka, tak ubahnya menyakiti kami. Tumor di bagian pinggulnya, dilawannya hingga “titik darah penghabisan”.
Seperti ikut membenarkan sudut pandang “in memoriam” ini, ketika saya membaca postingan keluarga kami lainnya, di akun Facebook @ItaNita_Abdullah, yang begitu dekat dan tahu persis siapa Sadam. Dia menulis kata-kata ini : “….orang baik, orang yang sabarnya luar biasa. Orang yang selalu berusaha untuk sembuh demi anak dan istri”. Lanjutnya, Allah ridho jadi penggugur dosa selama ini Dam, laki-laki kuat yang tetap slow menahan sakit lama ini. Kaka beruntung ada di saat Dam down.
Sang istri, Dahlia, yang ketegarannya sama, saat merawat sang suaminya di saat menderita sakit yang hebat selama ini, juga adalah perempuan pilihan. Saya menjadi saksi atas “testimoni” beberapa sumber yang tahu pasti situasinya. Suami-istri, yang tak tinggi pendidikan formalnya, pengalaman hidupnya berumah tangga yang belum genap di angka 3 tahun, hingga kondisi hidup yang nyaris tak jauh dari ukuran berkecukupan, tetapi mereka, seolah mematrikan kekuatan “cinta sejati”, yang jadi pelajaran hidup mengesankan buat kami.
Terasa ada yang remuk dan sulit “move on” ketika mengingatnya, mengulang kata-kata ini, di saat menenangkannya menangisi kepergian belahan jiwanya: Sadam masih ingin hidup, Sadam masih ingin melihat dan mengurusi Shafa sekolah [Shafa, sang buah hati mereka, seorang bocah perempuan mungil yang lincah dan lucu].
Membaca kembali pesan-pesan singkatnya, baik lewat sms ataupun chat WA di saban waktu, khusus di jelang kepergiaan sang belahan jiwa ini, terasa ada yang mengganjal dan bikin haru.


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.