Menurutnya, secara geologi kadangkala kita temukan penyebutan nama lokasi yang punya hubungan dengan kejadian kejadian geologi atau saat ini di sebut dengan toponimi.

“Pembuktian ilmiah dengan pendekatan geoculture dan geoarkeologi sangatlah penting. Merawat pusaka leluhur adalah salah satu bagian penting untuk melestarikan bumi,” jelasnya.

“Kalau wisata hanya foto selfie itu biasa, siapa pun itu bisa bikin. Tetapi wisata yang berbasis budaya dan identitas diri ini mahal, ini yang harus dijaga bersama,” pungkasnya.

Terpisah akademisi Unkhair Irfan Ahmad menuturkan, Festival Fagogoru yang dilaksanakan Disbudpar Halteng lebih mempromosikan nilai-nilai sejarah lokal dan kebudayaan lokal, salah satunya adalah jejak sejarah muasal ‘Pnuw Were’.

Irfan yang juga peneliti di Yayasan The Tebing mengaku, muasal Kampung Weda ‘Pnuw Were’ akan terus didiskusikan. Sebab, saat ini masih sepintas mengkaji dan menggali informasi dan dikembangkan.

“FGD ini salah satu bagian dari metode penelitian kualitatif. Jadi syarat dan ketentuannya itu harus pengumpulan data saja. Saat ini mereka sudah punya data awal seperti yang sudah dipaparkan oleh ahli geologi. Data itu sudah 75 persen, tinggal 25 persen,” tandas Irfan.