“Ini kan juga merupakan bagian dari diplomasi gastronomi, apalagi Ternate sudah ter-branding sebagai kota rempah,” ujarnya.
Selain kuliner dan rempah, sambung Eko, di Ternate juga banyak hal unik yang bisa jadi daya tarik. Misalnya budaya.
“Tari-tarian, lalu pengharum ruangan aroma rempah, kuliner rempah, sehingga ketika orang-orang datang ke Ternate mereka betul-betul merasakan bahwa mereka sedang berada di Ternate. Itu juga sangat penting untuk kita sama-sama kerjakan,” tuturnya.
“Selain itu kita juga harus berpikir nilai-nilai kerja sama dalam diplomasi gastronomi itu sendiri, misalnya UMKM yang bergerak di bidang kuliner ini juga harus banyak melakukan inovasi. Karena tuntutan zaman mengandung berbagai cita rasa kuliner, jadi harus banyak melakukan inovasi. Misalnya cakalang fufu bisa diolah menjadi makanan punya cita rasa kuat. Intinya terus berinovasi,” tandas Eko.
Hal sama juga ditambahkan Kris Syamsudin, founder komunitas Cengkeh Afo and Gamalama Spices (CAGS). Dia bilang, Ternate memang sudah layak menjadi kota gastronomi dunia karena potensi rempahnya sudah diakui dunia.
“Buktinya buku yang kami tulis yang berkaitan dengan gastronomi Ternate itu menjadi buku yang sudah mendapatkan penghargaan dunia dalam kategori kuliner. Jadi dengan adanya buku tersebut sebenarnya sudah menjelaskan bahwa Ternate sudah sangat siap untuk menjadi kota gastronomi dunia,” terangnya.


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.