Negara tidak pernah mau belajar dari kesalahan seperti yang dilakukan di Dago Elos Rempang, Tamansari, Barabaraya, dan peristiwa-peristiwa kelam masa lalu yang terus mengorbankan rakyat.
“Sekali lagi semua tindakan yang menimpa kami hari ini dan juga titik-titik lainnya tak akan membuat semuanya redup. Malah membuat keyakinan kami makin teguh bahwa negara adalah alat kekerasan itu sendiri. Suara kami akan terus mengudara di setiap ruang dan kami akan berlipat ganda,” tandasnya.
Kolom komentar unggahan itu pun dibanjiri hujatan terhadap Satpol PP, khususnya Fhandy. Warganet menyentil Fhandy akan kebiasaannya merekam warga, termasuk anak di bawah umur, saat melakukan razia.
“Maksudnya ngana video orang sampe kase maso di ngana pe tiktok me tara bikiapa. Serta orang video ngana bale baru ngana mangamo,” tulis salah satu akun.
“Kalo dia video anak-anak sekolah boleh. Orang video pe dia tara boleh. Ko**t deng dia,” timpal akun lainnya.
“Kong ngana video orang bikin konten pe lama ini tu orang ada marah? Ceh,” tambah salah satu akun.


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.