Krisis regenerasi petani bukanlah masalah yang dapat terselesaikan dengan mudah. Perlu adanya tekad yang kuat, dalam mewujudkan ketahanan pangan di negeri ini. Karena krisis pangan juga bisa mengakibatkan kematian jika disepelekan. Seperti yang dikatakan Eric Weiner si penulis buku The Geography of Bliss “Ketika pohon terakhir ditebang, ketika sungai terakhir dikosongkan, ketika ikan terakhir ditangkap, barulah manusia akan menyadari bahwa dia tidak dapat memakan uang”.

Memang sangat sedikit muda-mudi yang berminat untuk menjadi seorang petani, selain tak ada keinginan, dorongan orang tua yang melarang anaknya menjadi petani pun masih banyak. Bahkan kebanyakan orang-orang akan bertanya kepada mahasiswa yang mengambil jurusan pertanian, “Masa kuliah mahal-mahal hanya untuk menjadi petani sih”, “Lebih baik tidak perlu untuk berkuliah jika hanya untuk bertani”, “Jangan jadi petani seperti mama yah”. Faktor-faktor seperti ini yang menjadikan profesi petani semakin minim. Contoh sederhana yang kerap kali, saya jumpai di kampung. Ibu saya yang selalu mengatakan, saat kita sedang ke kebun bahwa menjadi petani tidak enak, jadi kamu harus kerja di kantoran saja.

Sebenarnya apa sih “hakikat pekerjaan” yang benar-benar dipahami oleh anak muda masa kini? Hakikat sebagai pekerja, kita mesti memberikan manfaat yang sebaik-baiknya kepada orang lain. Sebab kita setiap harinya juga menikmati hasil, daripada pekerjaan orang lain. Petani juga salah satu pekerjaan yang tak boleh berhenti, sebab semua orang membutuhkan makan. Dari tangan dan keringat petani lah, padi, sayur-mayur, dan rempah-rempah dihasilkan

Cukup penting pekerjaan petani ini, maka dari itu perlu kiranya upaya dari pemerintah dalam mengregenerasikan petani, namun yang cukup membantu ialah dibukanya program petani milenial di tahun 2021 lalu di Institut Pertanian Bandung (IPB), hingga kini masih dijalankan. Program ini sangat membantu dalam regenerasi petani, menaikkan omset, juga pemodernan sistem pertanian yang ada. Program itu diharapkan bisa mengurangi angka pengangguran yang jumlahnya berlipat. Pak Ridwan Kamil selaku gubernur Jawa Barat (Jabar) menargetkan 100.000 petani muda di Jabar hingga akhir jabatannya.

Petani Milenial merupakan program di mana para petani muda terpilih akan dipinjamkan lahan untuk bertani. Hasil tani akan dibeli oleh para pembeli yang bekerja sama dengan Pemprov Jabar. “Program ini ada di 27 daerah. Kita berharap program ini juga bisa mengurangi angka pengangguran dan anak desa tidak terus datang ke kota untuk bekerja,” ucap Pak Ridwan Kamil.

Jadi, kita sebagai muda-mudi yang bijak, mesti pandai-pandai dalam mengambil langkah atau keputusan. Kita akan menjadi penyelamat bangsa pada masa depan, atau menjadi karyawan demi kepentingan individual lalu dikontrol oleh kaum pemodal. Jadilah pemuda yang berguna untuk bangsa ini. (*)