Realitanya, sebagian masyarakat masih memandang literasi hanya sebatas membaca dan menulis, belum memahami tingkat literasi yang lebih tinggi. Mungkin kita agak tertinggal dalam pemahaman literasi dibandingkan daerah lain. Oleh karena itu, sebagai penulis, saya menyadari pentingnya hal ini dan berharap para pelaku literasi di Maluku Utara tidak hanya mengkampanyekan literasi dengan membuka lapak buku di tempat umum, tetapi juga terus mengedukasi masyarakat melalui tulisan, termasuk memahami tingkatan-tingkatan literasi. Jika hal ini dilakukan, literasi di Maluku Utara akan berkembang dengan baik.
Diskusi kami tidak berhenti di situ. Semakin larut malam, suasana semakin hening tanpa suara bising kendaraan. Saya merasakan secangkir kopi hitam semakin berkurang. Ia lanjut berbicara tentang program dari Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Maluku Utara yang mendorong minat baca, termasuk program membawa perpustakaan keliling dan mendorong siswa Sekolah Dasar (SD) untuk membaca berbagai jenis buku dan menuliskan ulasan tentang buku-buku tersebut. Pada akhir diskusi yang bermanfaat itu, saya memberikan buku kepada Pak Mul, sebuah kumpulan ide dari lima anak muda dengan latar belakang profesi yang beragam. Bang Asghar Saleh juga mengakui daya tarik “Sabda Candu,” dalam pengantar buku ini menyatakan bahwa cerita pendek dalam buku tersebut benar-benar menggoda dan membuatnya ketagihan untuk membaca semuanya. (*)



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.