“Coba kalau terima MoU dengan PT Malut Maju Sejahtera waktu itu, pastinya kondisi stadion sudah jadi lebih wow begitu. Waktu kontraknya itu kan hanya 10 tahun dipakai, berarti setelah 10 tahun, pemkot untung karena sudah direnovasi apalagi standar liga. Selain itu, bisa juga disewakan, bisa memberdayakan UMKM di sekitar stadion juga. Yang penting jangan buat konser saja,” bebernya.

Ia membandingkan GKR dengan Stadion Gurabati di Tidore Kepulauan. Meski hanya berbasis partisipasi masyarakat setempat dan bantuan Pemerintah Kota Tidore Kepulauan, stadion tersebut bisa tampil menarik dan kerap dijadikan lokasi turnamen.

Kata dia, seandainya Stadion Gelora Kie Raha Ternate diperhatikan oleh pemerintah setempat, bisa saja kondisi GKR akan megah dan dipuji oleh masyarakat Kota Ternate dan pengunjung stadion. Apabila, pemerintah paham dengan keinginan pecinta sepak bola, ini pastinya menjadi salah satu spot masyarakat untuk wisata olahraga.

“Kita harus bangga dengan Gelora Kie Raha, kalau sudah direhab jadi lebih bagus dan megah pasti orang-orang datang berselfie. Ini bisa jadi spot untuk pengunjung yang ke stadion,” ucap dia.

Pemerintah Kota Ternate, ia berujar, sangat naif dengan membiarkan kondisi GKR saat ini. Beruntungnya, kejadian ambruknya tembok siang tadi tidak memakan korban.

“Kondisi tembok itu sudah tua, kalau ambruk terus kena orang yang lewat, nah siapa yang bertanggungjawab? Kalau sudah begini kemudian pemerintah masih tunggu apalagi? Korban? Pak Wali jangan acuh begitu, karena Stadion Gelora Kie Raha adalah kepentingan masyarakat. Dan kalau ini direhab kan pastinya pakai uang rakyat juga, bukan uang pribadi Wali Kota Ternate,” cecarnya.