Menurut Iqbal, ambruknya tembok GKR merupakan tanggung jawab pemerintah kota. Pemerintah kota harusnya lebih peduli dengan sarana prasarana yang menunjang PAD. Bukan tanpa alasan, sebab GKR bisa menjadi peluang untuk perputaran ekonomi masyarakat. Belum lagi, jika stadion tersebut sudah diperbaiki, tentunya bisa menjadi omset pendapatan bagi kas daerah.
“Sejak peresmian di tahun 1975 seharusnya ada renovasi kan, dan itu sudah dilakukan oleh pemimpin sebelumnya. Sekarang giliran Pak Tauhid yang kerjakan renovasi Stadion Gelora Kie Raha. Sangat disayangkan ketika mendekati injury time Tauhid Soleman kemudian tidak bisa berbuat apa-apa untuk GKR,” ungkap Iqbal.
Sebagai pecinta sepak bola dan masyarakat Kota Ternate, Iqbal mengaku kecewa dengan lemahnya kebijakan Tauhid. Bagi dia, Tauhid lebih memilih pembangunan lapak ketimbang mementingkan kepentingan banyak orang, yakni Gelora Kie Raha.
Selama ini ia mengaku tidak tahu apa saja yang dianggarkan oleh pemerintahan saat ini, sehingga setelah mengetahui perbaikan Gelora Kie Raha tak masuk daftar, maka tentu membuat dirinya merasa sangat kecewa. Ia mengungkapkan, di saat Tauhid mengikuti pemilihan pada Pilwako lalu, diriya merupakan salah satu tim yang berjuang bagi Tauhid-Jasri Usman, dengan harapan ke depan setelah terpilih Tauhid sebagai penentu daerah bisa mengokomodir kepentingan masyarakat. Apalag, sambung dia, 80 persen warga Ternate adalah pecinta sepak bola.
“Kalau tahu begini juga yah waktu itu kami tidak usah perjuangkan dia (Tauhid). Kami berjuang kan bukan untuk diri sendiri, tetapi untuk seluruh pecinta sepak bola, yakni masyarakat Kota Ternate,” paparnya.
Iqbal membeberkan, Pemkot Ternate telah menyia-nyiakan rencana kerja sama dengan PT Malut Maju Sejahtera beberapa bulan lalu. Padahal, MoU tersebut merupakan peluang besar bagi pemkot untuk PAD. Namun sayangnya, itu diabaikan begitu saja.




Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.