Dengan demikian, untuk memantapkan kesiapan klub ini, lanjut Dirk, pihaknya ingin agar stadion Gelora Kie Raha dapat dijadikan homebase. Tentunya, untuk memperoleh hak pengelolaan stadion yang merupakan aset Pemkot Ternate ini harus mengikuti berbagai macam syarat dan ketentuan yang berlaku.
Selain itu, kerja sama yang direncanakan itu, kata Dirk, jika bisa berjalan mulus maka sangat menguntungkan Pemkot Ternate. Sebab, hasil pengelolaan stadion, baik berupa penjualan tiket penonton dan pengelolaan lahan parkir akan masuk sebagai pendapatan daerah.
Keuntungan lainnya, kerja sama yang tentunya memiliki batas waktu ini membuat aset saat dikembalikan ke Pemkot Ternate seutuhnya dalam kondisi yang lebih baik dari sebelumnya. Belum lagi, dampak ekonomis bagi masyarakat sekitar stadion.
Dirk mengaku awalnya sangat bersemangat begitu mendapat informasi dari Asghar mengenai rencana penandatanganan MoU dengan Pemkot Ternate. Sehingga di tengah kesibukannya, Dirk langsung berangkat ke Ternate.
“Tetapi ternyata lain, dan harapan kita sampai dengan hari ini, jam ini, tidak ada respon sama sekali,” ungkap Dirk.
Karena merasa telah dipermainkan oleh Pemkot Ternate atas janji yang enggan ditepati, Dirk menegaskan pihaknya sudah memutuskan tidak akan lagi melanjutkan kerja sama untuk penggunaan maupun pengelolaan Stadion Gelora Kie Raha.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.