“Ke luar negeri kita harus melihat dulu anggaran yang dipakai nanti, apakah itu tidak termasuk boros atau hemat kan nggak tahu,” kata Muammil.
Kalau hanya sekadar mempromosikan rempah-rempah, ujarnya, semestinya sudah menjadi produk. Sehingga, negara tersebut bisa tahu apa yang menjadi produk dari Ternate.
“Karena kalau hanya cengkeh dan pala itu artinya bahan baku, jadi harus tentukan dulu produknya apa. Apakah kopi dabe, kopi rempah, sirup pala atau manisan pala. Jadi harus jelas apa yang dipromosikan,” ujarnya.
Selain produk, Pemerintah Kota Ternate juga harus memastikan ketersediaan bahan baku dan produknya. Sehingga, ketika ada permintaan stok, Ternate sudah siap ekspor.
“Kita juga harus pastikan apakah stok kita mampu tidak, untuk memenuhi permintaan Belanda dan Portugal? Karena berbicara kerja sama itu kita harus siap dengan strategi marketing dan kualitas produk kita. Bukan hanya sekadar kerja sama lantas tidak jalan,” tukas Muammil.


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.