Menyandang nama besar tetapi memiliki low profile, sehingga saya hampir tak percaya telah berhadapan dengan tokoh yang sangat merendah ini. Sungguh bikin saya kagum pada reputasi karyanya tapi sangat merendah, terpesona pada pribadi kiprah dan karyanya. Tentu lembaran ini tak bisa menuangkan seluruh kiprahnya hingga detail.

Lantas apakah rahasia lain dari sang penggila teater dan seni sastra ini? Ayah Arie ketika ditanya, menjawab amat perlahan, agak lirih membisik, “Torang harus rendah hati, tulus saja. Jangan angkuh. Banyak memberi kepada mereka yang baru memulai. Mohonlah agar Allah SWT menjadikan jalan seni yang torang geluti sebagai ngoko kudiho menuju jannah.” Rahasia ini terdengar biasa-biasa saja akan tetapi proses menjalani tentu melewati sederet warna pelangi sebagaimana Ayah Ari yang telah menjalaninya selama 40 tahun.

Mengikuti secuil track record Zainuddin M Arie yang diuraikan itu, tidaklah berlebihan bila sosok dan eksistensi Ayah Arie yang telah berkiprah di dunianya telah pantas  diberikan apresiasi yang tinggi sepadan dengan perjalanan kekaryaannya selama ini. Apresiasi seperti dimaksud akan menjadi kebanggaan Maluku Utara tentu mengangkat martabat negeri yang sejak dulu disebut Jaziratul Mulk.

Tentunya sebagai generasi Maluku Utara kita punya impian besar agar sosok Ayah Arie di suatu saat nanti dimungkinkan didorong sebagai penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia (AKI). Hal ini bisa terwujud jika adanya dukungan pemerintah daerah dan para penggiat sastra. Jika tercapai, ini bisa menjadi kebanggan sendiri buat daerah.