Hal lain yang memerlukan perhatian, adalah memilih aparatus birokrasi yang mengelola pasar dan juga terminal. Mereka eloknya merupakan orang-orang pilihan memiliki mental kuat, konsep yang kuat, integritas tinggi, profesional, dan memahami cara kerja fungsional pada wilayah pasar dan terminal untuk memegang amanah yang tidak kecil ini.
Sekali lagi, pasar (dan terminal) merupakan cerminan dan representasi baik buruknya tata kelola wajah sebuah kota. Bila pasar dan terminal dikelola tidak profesional, maka yang tumbuh adalah produksi ketidak-teraturan.
Menata pasar dan terminal dengan segala dinamika dan konsekuensinya membutuhkan konsistensi sekaligus kreativitas sehingga retribusi yang dibayarkan warga masyarakat tidak menjadi sebuah beban, sebaliknya menjadi suatu keharusan untuk melihat wajah pasar yang sehat, nyaman, tertib, dan bebas dari praktik-praktik pungli, apalagi seenaknya menjual lapak secara sembunyi-sembunyi.
Kota Ternate merupakan magnet sekaligus patron bagi kabupaten/kota di Maluku Utara dalam menata ruang kotanya. Karena itu, pasar dan terminal harus dikelola secara nyaman, sehat, dan memberi rasa keadilan bagi semua warga (inklusif), bukan sebaliknya, menghadirkan pasar dan terminal sebagai praktik arena perebutan sumberdaya ekonomi dan otoritas yang tidak sehat. (*)



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.