Oleh: Herman Oesman
Dosen Sosiologi FISIP UMMU
_______
“…Ruang publik adalah sebuah ruang yang aktif mengontrol dan membentuk kesadaran masyarakat. Karena itu, ia tidak pernah bebas dari pemaknaan oleh berbagai pihak …” (Abidin Kusno, 2009)
KOTA Ternate sejak awal pembentukannya, terus menerus mengalami transformasi melalui berbagai pengaruh kekuatan dan kekuasaan. Proses transformasi terjadi dari struktur kota tradisional menuju kota moderen, tidak saja secara fisik tapi juga perilaku dalam memahami ruang kota. Dinamika yang terjadi di ruang kota adalah persoalan perebutan ruang. Perebutan ruang bisa dipahami sebagai perebutan alat-alat produksi, bila dilihat dalam konteks teori Marxis. Menurut Marx, hubungan-hubungan sosial terikat rapat kepada kekuatan-kekuatan produksi. Melalui kekuatan produksi yang baru, manusia mengubah cara produksinya, cara di mana mereka menunjang hidupnya. (Duverger, 1981:210).
Sengkarut penataan pasar dan terminal merupakan bagian dari perebutan alat produksi yang menjadi problem perkotaan yang tak pernah usai dipersoalkan. Ini juga setali tiga uang dengan kapasitas mental sebagian aparatus birokrasi yang mengelola pasar secara serampangan.
Pasar dan terminal kemudian menjadi area bancakan kepentingan meraup keuntungan pribadi maupun kelompok. Indikator pasar menjadi arena tarung ekonomi sudah bukan rahasia umum bagi masyarakat Kota Ternate sejak lama.
Malut Post sejak 2012 (lihat Malut Post Edisi, Senin, 15/10/2012) telah mengurai tentang mental jual lapak, memberi ruang tersendiri bagi mereka yang punya modal lebih, bukanlah barang baru di kawasan pasar Kota Ternate.


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.