Ia mengaku kecewa dengan pemerintah daerah karena terkesan tidak peduli dengan kelangsungan pembangunan tersebut.

“Proyek ini dikerjakan secara swakelola oleh desa melalui pihak ketiga, mulai dari bangunan gedung hingga dijanjikan untuk mendatangkan mesin penggilingan. Tapi, faktanya di lapangan hanyalah gedungnya saja, mesin penggilingnya tidak ada. Artinya ini secara tidak langsung masyarakat tidak mendapatkan manfaat apa-apa, terus anggaran sebesar itu dikemanakan?” tegasnya.

Dia bilang, pihak ketiga yang menangani proyek tersebut merupakan seorang oknum anggota DPRD Halmahera Barat. Namun dia mengaku tidak mengetahui perusahaan yang mengerjakan proyek tersebut.

“Lebih jelas nanti tanyakan saja ke pihak pelaksana proyek tersebut karena mereka lebih tahu,” tandasnya.