Lebih jauh ia mengatakan, komponen impor tercatat sebesar USD337,85 juta, naik 22,60% dibandingkan bulan sebelumnya. Sementara itu, total impor selama Januari-September 2022 tercatat sebesar USD1.891,56 juta dengan komoditas yang paling banyak diimpor sampai dengan September 2022 adalah Batu Bara/Semi Coke (US$210,20 juta).

“Adapun perusahaan penyumbang devisa hasil impor terbesar sampai dengan September 2022 adalah PT Huafei Nickel Cobalt (USD390,49 juta),” tukas Syaiful.

Sebagai bentuk penyelamatan instrumen APBN sebagai fiscal tool, kebijakan kenaikan harga BBM ditempuh untuk mengalihkan subsidi supaya lebih tepat sasaran. Pemerintah telah menggelontorkan dana Rp 22 triliun untuk bantuan langsung ke masyarakat baik dalam bentuk BLT maupun BSU.

Pemerintah Daerah melalui APBD telah mengalokasikan 2% DTU senilai Rp 45,1 miliar untuk bansos, penciptaan lapangan kerja, subsidi transportasi, dan perlinsos lainnya.

Dalam mengatasi permasalahan ketahanan pangan, Syaiful berkata, pemerintah juga telah mengalokasikan anggaran sebesar Rp 81,06 miliar pada APBN 2022. Alokasi tersebut digunakan untuk program ketahanan sumber daya air, program ketersediaan, akses, dan konsumsi pangan berkualitas, program nilai tambah dan daya saing industri, program pendidikan dan pelatihan vokasi, program pengelolaan perikanan dan kelautan, serta program penyediaan dan pelayanan informasi statistik.

“Selain dari belanja kementerian/lembaga, upaya pengendalian juga dilakukan pada alokasi DAK Fisik dan DAK Non Fisik. Sebesar Rp 234,7 miliar dianggarkan pada DAK Fisik untuk pengembangan food estate dan sentra produksi pangan dalam bidang irigasi, jalan, kehutanan, kelautan dan perikanan, lingkungan hidup, serta pertanian,” ujarnya.