Terkait kondisi perekonomian Maluku Utara, pertumbuhan ekonomi di triwulan II tahun 2022 mampu tumbuh sebesar 27,74% (yoy) dengan kontribusi terbesar disumbang oleh sektor industri pengolahan dan sektor pertambangan dan penggalian.

“Pada bulan September 2022, inflasi di Maluku Utara tercatat sebesar 0,51 persen (m-to-m) dan secara yoy sebesar 4,52%. Angka inflasi tersebut mengalami kenaikan dibandingkan dengan inflasi Agustus yang tercatat sebesar 3,86% (yoy), meskipun masih berada di bawah inflasi nasional September 2022 yang tercatat sebesar 5,95% (yoy). Sektor transportasi pada bulan September 2022 mengalami inflasi tertinggi, yakni sebesar 8,16% dibandingkan dengan bulan lalu,” terang Syaiful.

Di sisi lain, kelompok makanan, minuman dan tembakau mengalami deflasi sebesar 1,32% (m-to-m). Adanya kenaikan harga BBM tentunya memicu kenaikan inflasi yang lebih tinggi hingga akhir tahun.

“Diharapkan dengan adanya intervensi kebijakan, baik dengan pendekatan sisi demand maupun supply, dapat menekan kenaikan inflasi dan menjaga kemampuan daya beli masyarakat,” lanjutnya.

Sementara itu, Indikator Nilai Tukar Petani (NTP) dan Indikator Nilai Tukar Nelayan (NTN) per September 2022 menunjukkan bahwa NTP di Maluku Utara berada di angka 107,19. Sedangkan NTN Maluku Utara berada di angka 102,76.

Neraca Perdagangan Regional Maluku
Utara per September 2022 menunjukkan hasil positif pada ekspor di mana nilai ekspor lebih besar dari nilai impor.

“Pada bulan September 2022 komponen ekspor tercatat sebesar USD598,53 juta, mengalami penurunan nilai sebesar 2,16% dari bulan sebelumnya. Jumlah kumulatif ekspor hingga bulan September 2022 tercatat sebesar USD6.901,47 juta. Komoditas feronikel menjadi komoditas yang paling banyak diekspor berdasarkan data devisa hasil ekspor dengan
nilai sebesar USD5.207,01 juta. Perusahaan yang menjadi penyumbang devisa hasil ekspor terbesar sampai dengan Juli 2022 yaitu PT Yashi Indonesia Investment dengan nilai sebesar USD782,54 juta,” tambahnya.