Oleh: Sartika Muin
______
SEBAGAI seorang ibu, besar harapan anak-anaknya akan tumbuh menjadi generasi yang cerdas dan berkepribadian baik. Ibu menjadi madrasah pertama manusia sebelum mendapatkan pendidikan dari orang lain, sehingga memberikan contoh dan didikan terbaik kepada anak bukan perkara sembarangan. Karena kita boleh saja gagal dalam banyak hal namun dapat dicoba kembali, tetapi gagal mendidik anak maka tak ada waktu untuk diputar kembali.
Kaicil Rade putra sulungku, nama ini diambil dari seorang pangeran asal Kesultan Tidore di abad ke-15. Tokoh ini nyaris tenggelam di tengah sejarah besar Maloku Kie Raha dan kemahsyuran nama Sultan Nuku dan Sultan Babullah yang namanya terukir dengan tinta emas. Namun Kaicil Rade namanya hanya ditulis dari tangan seorang musuh yang menaruh kagum padanya, Antonio Galvao, sang Gubernur di Ternate, yang saking hormatnya pada Kaicil Rade menulis nama itu pada buku yang berjudul Historia das Moluccas.
Dari buku karangan Adnan Amal berjudul Kepulauan Rempah-rempah informasi ini diperoleh. Kaicil Rade pada satu negosiasi dengan Galvao tak goyah sedikitpun meski sang gubernur menawari Kaicil Rade menjadi sultan. Namun, dalam bahasa Portugis yang fasih Rade dengan tegas menolak ide itu, sebab dia telah memilih menjadi abdi bagi adiknya Sultan Amirudin Iskandar Zulkarnain, sekaligus memikirkan aib yang ditanggungnya jika tawaran itu diterima.
Nama Kaicil Rade hanya sekali itu disebut dalam literatur kuno, selebihnya tak ada satu pun peninggalan tertulis dari bangsa ini yang menuliskan nama yang bijak ini, sementara kelemahan literatur tertulis menyebabkan sejarah itu hanya menjadi legenda atau mitos yang terus diperdebatkan tanpa ada dasar pembuktian yang valid.
Itulah pentingnya generasi yang melek akan kegiatan literasi, sehingga perjalanan sejarah dapat terdokumentasi dengan baik dan akurat. Hari ini sepertinya segala perangakat modern terutama teknologi dan komunikasi telah menunjang segala aktivitas perdokumentasian, sehingga tak sulit untuk menemukan penanda waktu terjadinya peristiwa sejarah. Namun literasi di era ini mestinya terus membutuhkan gerak bersama semua pihak agar semua pengguna perangkat canggih itu bisa memanfaatkannya dengan baik.




Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.