Pesan leluhur yang diteruskan oleh Mama Ama pada generasi hari ini “Gae re gele neste rfaftote bo tjaga re tpalihara pnuw re boten enje fafie” Artinya, “leluhur pernah berpesan bahwa kita harus menjaga dan pelihara kampung ini dengan baik-baik”.
Boki Moruru yang menurut cerita sebagai satu tempat perjumpaan dan bersemayamnya cinta kasih Mon Takawai dan Putri Sarimadago. Untuk melindungi tempat bersejarah itu, maka kita harus hidup selaras berdampingan dengan keindahan alam Sagea-Kiya yang telah diwariskan secara turun temurun. Mama Ama berdiri menantang perusak lingkungan sejak tahun 2014 dan sampai saat ini, semangat perjuangan belum pernah pudar.
Di dalam aksi unjuk rasa yang melibatkan perempuan dan pelajar, Mama Ama sempat meneteskan air mata saat melihat anak-anak sekolah berseragam merah putih berjalan di bawah terik panasnya matahari.
“Saya tara simore kalau tambang ini masuk, inga tong pe ana-ana punya masa depan (saya tidak bangga kalau tambang terus beroperasi, karena mengingat masa depan anak cucu),” kata Mama Ama sambil mengusap air mata.
Desa Sagea dan Kiya, masyarakatnya yang hidup berdampingan dengan alam ini berlangsung selama berabad-abad. Danau Yonelo dan talaga Lagaelol yang merupakan sumber penghasilan, sungai Boki Moruru sebagai sumber air, pemandangan yang estetik, air yang jernih dan hutan yang lebat kini dalam bayang-bayang kehancuran. Ulah dari rakusnya pemerintah dengan menjadikan tambang sebagai satu-satunya sumber penghidupan.


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.