Umar dalam riwayatnya beliau selalu memantau rakyatnya dari pagi hingga larut malam untuk memastikan keamanan dan kenyamanan rakyatnya. Terlepas dari itu, Umar juga berhasil perluasan wilayah kekuasaannya, menata administrasi pemerintahan dan menata kotanya. Ekspansi wilayah pada masa Umar dilakukan secara bertahap, yang pertama ditaklukkan yaitu kota Damaskus ibu kota Syiria, lalu Mesir.

Di bawah komando Amr bin Ash, irak di bawah komando Sa’ad bin Abi Waqos lalu Qadisiyah. Di masanya kekuasaan Islam meliputi seluruh jazirah Arabia, Palestina, Syiria, Persia, dan Mesir. Ia menempatkan gubernur “militer secara proporsional” sehingga tidak terjadi konflik di antara keluarga. Beliau juga melakukan pembagian shoimah dan zakat sehingga ia membentuk baitul mal.

Olehnya itu, mulailah untuk memahami teori dan praktik politik yang sesuai dengan paparan para filsuf “Socrates, Plato Aristoteles, Ibnu Khaldun, Max Weber, Hans Kelsen dan belajarlah dari kisah Umar bin Khattab. Jika itu dilakukan maka tentu politik akan berjalan sesuai dengan esensial, substantif dan kredibel serta akuntabilitas di bangsa Indonesia.

Jangan menafsirkan politik secara subjektif, menurut saya, biasanya begitu-begini dan menurut orang bilang. Bahwa politik itu urus diri sendiri, urus kelompok, sekedar urus parpol, urus popoje, urus tikam orang, urus etnis, urus kepentingan borjuis, urus profit, urus harta, urusan baku kocak, baku fitnah, urus everdooman, urusan cukardeleng dan seterusnya. Yang pada akhirnya banyak terjadi kecelakaan berpikir terhadap politik itu sendiri. (*)