Kemudian, Jibril mendekapnya untuk kedua kalinya sampai beliau benar-benar kelelahan. “Bacalah,” ujar Jibril lagi seraya melepas pelukannya.
Jawab Muhammad “Aku tidak bisa membaca,” dengan jawaban yang sama. Lalu Jibril mendekap untuk ketiga kalinya, kemudian melepaskan Nabi Muhammad SAW seraya berkata “Iqra bismirabbikal ladzii khalaq. Khalaqal insaana min ‘alaq. Iqra wa rabbukal akram. Alladzii ‘allama bil qalam. Allamal insaana maa lam ya’lam.”
Artinya: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
Bacalah, dan Tuhanmu lah Yang Maha mulia. Yang mengajar (manusia) dengan pena”. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.”
Begitulah penggalan kisah yang menakjubkan dalam Alquran. Bayangkan Allah SWT memerintahkan agar Baginda Nabi Muhammad membaca, kemudian memberikan pesan agar menulis pesan-pesan kebaikan untuk disampaikan kepada umat manusia. Substansi dari cerita tentang surat Al-Alaq adalah Allah SWT memerintahkan kepada umat manusia tentang literasi.
Sama seperti literasi yang dimaktub dalam Injil. Menurut Jefferson, tidak ada cara lain untuk dapat mengenal Tuhan selain membaca melalui halaman-halaman Alkitab yang memberikan kita terang dari pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang nampak pada wajah Kristus (2 Korintus 4:6). Inilah pemandangan dari puncak yang tidak akan kutukar dengan hal apapun (Filipi 3:8).

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.