“Pertama, andesit yang ada di Ternate ini vesikuler, memiliki lubang gas. Nah ketika lubang batu punya gas berarti punya kemampuan saling mengunci, interlocking satu dengan yang lain melalui pelarutan secara alami,” terangnya.
“Saya ingat betul kata teman-teman arkeologi, mungkin ada pelekat pada zamannya. Jadi jika ada nilai poros di batuan kan gampang itu. Andesit yang ada di Ternate pembentukan dan mode geometrinya tanpa dipotong,” ujar Dedy.
Selain andesit, campuran benteng juga menggunakan material pasir. Namun hampir sebagian besar memanfaatkan vulkanik.
“Hampir semua benteng seperti Benteng Oranje, Tolukko ada, apalagi Kastela, hampir semua benteng. Karena memang Ternate ini gunung api sehingga saya yakin zaman dahulu, baik Belanda, Portugis, gampang buat bangunan karena material ada di tempat dan diambil karena sejarah letusan Gamalama Tua itu dahsyat sekali. Ketika dahsyat letusan maka material itu banyak,” paparnya.
Sejauh ini, Dedy berujar, riset penuh soal batuan benteng-benteng di Ternate belum pernah dilakukan.




Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.