Puisi ini tak biasa. Pendek dan menghentak akal sehat. Ia seperti sejumput imaji yang selintas lewat. Tak sekadar hasil kombinasi kata-kata yang kosong. Secara kognitif, puisi ini menuntun kita untuk memahami realitas. Bukan tiruan. Puisi ini menemui kita sebagai pengingat yang evokatif tentang pengalaman, perenungan dan juga entitas teologis. Ia memulihkan ingatan dari kebisuan. Juga sinisme dan sikap masa bodoh.
Gibra merevitalisasi kembali makna berkurban yang paling mendasar yakni “menyembelih hewan dalam diri”. Sesuatu yang tak mudah untuk dijalani. Sesuatu yang dulu sekali, membuat Ibrahim dan Ismail terpilih sebagai manusia paripurna. Saat ini, manusia lebih sering terjebak pada nafsu yang simpang siur. Gamang di antara lupa. Ada hasrat hewani yang meretas akal sehat. Kita tak lagi terhubung. Setiap orang membangun tembok pembatas. Berkurban jadi elitis. Mirip karnaval tahunan di jalan-jalan kota yang sumpek. Kita juga meyakini setiap orang punya kebenaran dan cenderung untuk tidak menghargai yang berbeda. Sosiolog Perancis, Daniel Bensaid menyebutnya sebagai individualisme yang otoriter.
Pemaknaan Hari Raya juga terjebak pada tafsir yang dibatasi waktu. Bukan tentang bagaimana setelah itu. Berkurban mestinya jadi gaya hidup. Bukan sekadar merayakan tetapi memahaminya sebagai “social necessary” yang akan menegasi kebersamaan secara utuh. Berkurban juga bukan tentang berbagi daging yang konsumtif. Berkurban -meminjam pendapat sosiolog Herman Oesman- juga tentang keberanian untuk menyembelih keserakahan demi kesetaraan, menyembelih elitisme demi penguatan kerakyatan, menyembelih komunalisme demi solidaritas sosial, menyembelih pemborosan demi kelestarian, menyembelih hedonisme demi produktifitas, menyembelih kekerasan demi kedamaian dan menyembelih hasrat korup demi keberlangsungan.
Dengan itu, mungkin kita akan punya keberanian untuk “mendatangi” Tuhan. Mendatangi di sini berarti sesuatu yang tidak menetap atau mandek. Ia adalah proses untuk “menuju”. Dan kita tak tahu kapan proses itu akan selesai. (*)


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.