“Futurolog Alvin Toffler dalam The Third Wave (1980) menjelaskan bahwa dalam setiap pola perubahan global memberi dampak pada perubahan sistem dan perilaku sosial masyarakat,” ujarnya.

Toffler membagi progesivitas dunia berkembang pada tiga gelombang atau bagian yaitu:

  1. Gelombang Pertama dikatakan sebagai era sosiosfer yang bertumpu pada pertanian dan teknologinya yang masih serba tradisional.
  2. Gelombang Kedua, di mana ada lompatan baru peradaban berupa revolusi industri. Terjadi massifikasi produksi serta tumbuhnya dan berkembangnya pusat-pusat industri dalam skala besar. Terjadinya sentralisasi kerja dan produksi yang menimbulkan jurang kesenjangan antara produsen dan konsumen. Bahkan penerapan teknologi pada era ini menurut Toffler sendiri banyak memberi dampak negatif.
  3. Sedangkan pada Gelombang Ketiga, justru berbalik dari Gelombang Kedua, di mana pola hidup masyarakat yang ditandai dengan kehadiran teknologi informasi (digitalisasi) yang cenderung mengalihkan sumber kerja dari pusat-pusat produksi (sentralisasi) ke lingkungan rumah atau keluarga (desentralisasi). Orientasi lebih kepada sistem produksi dalam skala kecil (demassifikasi) dengan penekanan pada prinsip pro-kosumen. Dalam era Gelombang Ketiga teknologi justru menjadi sarana yang sungguh-sungguh memanusiakan dunia dan dengan itu pula meningkatkan kualitas hidup manusia.

Tetapi pada kondisi ini melahirkan anomali, sambung Jusuf, bahwasanya teknologi yang kita rasakan saat ini selain memberikan kemudahan fasilitasi tetapi juga memberikan dampak negatif yang ditimbulkan.

“Dan siapkah bangsa dan masyarakat Indonesia dalam menghadapi situasi pertarungan peradaban digital, bila mana kita terjerumus dalam pusaran kemajuan dari teknologi ini? Ataukah kita akan kembali menjadi robot yang kehilangan dimensi kemanusiaan,” ucapnya.

Mantan Kepala Dinas Tenaga Kerja Kota Ternate ini memaparkan, era globalisasi yang dikenal dengan revolusi industri 4.0 benar-benar memberikan kemudahan aksesibilitas dan tentunya telah menjadi megatrend baru atau kecenderungan dunia. Defensivitas kemajuan teknologi ini, tentu tidak serta merta terjadi. Revolusi dan transformasi ini secara fundamental mengakibatkan berubahnya pola berpikir, pola hidup, dan pola interaksi sosia. Era ini telah mendisrupsi keseluruhan aktivitas manusia.