Ingatan (memory) dan kenangan (nostalgia) mengenai masa lalu melibatkan pemaknaan setiap
orang terhadap setiap orang, dan pemaknaan setiap orang terhadap ‘momen bersama’ di masa lalu, seperti tema reuni; “kawan lama, kawan sekarang dan selamanya”. Dan, ritual reuni tanggal 22-23 Januari 2022 kemarin telah ‘menyatukan’ mereka kembali. Dengan ragam seremoni dan kegiatan yang digelar berfungsi ‘menyegarkan dan mengakrabkan’ kembali relasi sosial-emosional di antara mereka. Tentu saja, tidak semua “mereka” hadir secara fisik, mengingat waktu dan kesempatan yang tak sama dimiliki semua mereka. Tetapi, apa artinya “hadir”? Saya – hanya bisa- “hadir dengan cara ini, melalui atau ‘dengan ini’.
Pada momen reunian itu, ketika terjadi perjumpaan kembali, orang-orang memang tak lagi menemukan “wajah-wajah sesama-sejaman-seangkatan” pada masa lalu pada “wajah-wajah masa kini mereka”, karena setiap orang telah melalui usia lahir dan usia biologis selama rentang kurang lebih 37 tahun lamanya dari masa kini (baca: tahun ini). Tetapi “wajah-wajah sesama-sejaman-seangkatan masa
lalu”, bagaimanapun, masih dapat dikenali dan saling mengenali, lewat pancarannya yang terekspresikan pada masa kini; gaya bertutur, intonasi dan ekspresi emosi sebagai habitus seseorang sejak dari masa lalu, dapat menguatkan pancaran wajah-wajah dari masa lalu itu. Ada yang berubah. Pasti! Seperti usia lahir dan usia biologis. Usia lahir telah menua, tetapi usia biologis bisa awet. Atau, sebaliknya. Usia biologis “lebih cepat” daripada usia lahir. Manusia menjalani, rela ataupun tidak, hukum atau sunnah kehidupan demikian. Tetapi, “teman lama akan tetap menjadi teman selamanya”. Demikian halnya, seorang guru tetap saja “guru”, bagi kita. Tak ada “mantan teman”, juga tak ada “mantan guru”.
Ritual reuni Spensa Ternate 1985 pada Januari 2022 lalu melahirkan asosiasi yang dikenal sebagai
Iluni (Ikatan Alumni) Spensa ’85. Kepengurusan pertama yang dinakhodai Arifin Djafar ini dikukuhkan pada Sabtu 12 Maret 2022. Di sini, pada ritual reuni ini, nampak bagaimana masa lalu yang diingat dan dikenang menjadi kekuatan yang menyatukan kembali sekaligus mengorganisir orang-orang dari masa lalu menjadi sebuah komunitas atau asosiasi di masa kini. Masa lalu mengabsahkan, memberi legitimasi terhadap “penyatuan kembali” sejumlah orang, kemudian mereka berkumpul dan merencanakan tindakan yang kontributif terhadap almamater mereka. Ritual reuni, karena itu, memperlihatkan kekuatan dari apa yang dinamakan Blunt (2003:p.717) sebagai nostalgia produktif. Suatu nostalgia produktif yang berorientasi masa kini dan masa depan. Tetapi tak harus kembali ke ‘masa lalu’, sebagaimana dibayangkan Blunt (Ibid). Masa lalu (the past) yang oleh sejarawan John Fea dinamakan ‘sebuah negeri asing’ (dikutip dari Heinze, 2015:p.140) bagi orang orang di masa kini, dihadirkan dalam pengalaman subjektif masa kini orang per orang dan kelompok secara produktif, menjadi kekuatan produktif. Dan kini, kita menanti hasil (outcome) dari kekuatan nostalgia produktif ini. Selamat atas reuni dan pengukuhan pengurus Iluni Spensa Ternate- ’85. “Menyatu, Bersatu, untuk Spen-satu”…selamanya!
Kayu Merah, dinihari 11 Maret 2022



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.