“Seperti yang kita ketahui bahwa selama tahun 2021, pertumbuhan ekonomi Provinsi Maluku Utara dari kuartal 1 sampai dengan kuartal 3 selalu berada pada posisi 3 besar di Indonesia. Inflasi Maluku Utara tercatat rendah dan stabil sepanjang 2021, hal ini tak lepas dari koordinasi yang baik dari Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Seluruh Maluku Utara,” ungkapnya.
Selain itu telah terdapat Kerja sama Antar Daerah (KAD) antara Provinsi Maluku Utara dengan Provinsi Jawa Timur, serta Provinsi Maluku Utara dengan Provinsi Sulawesi Utara. Kerja sama ini bertujuan untuk mengendalikan inflasi khususnya dalam memastikan ketersediaan pasokan komoditas volatile food antara lain ikan dan ayam.

Ada pun, terdapat beberapa pencapaian penting yang diraih di tahun 2021.
“Pertumbuhan jumlah merchant pengguna QRIS di Maluku Utara telah mencapai angka 198%. Di mana angka tersebut merupakan jumlah pertumbuhan tertinggi dalam program QRIS 12 Juta Merchant secara nasional,” papar Hario.
Sementara TPID Provinsi Maluku Utara berhasil masuk sebagai nominasi TPID terbaik se-Sulampua (Sulawesi, Maluku dan Papua). Bank Indonesia juga berhasil meningkatkan produktivitas UMKM binaan klaster ketahanan pangan, serta berhasil meningkatkan jumlah UMKM mitra sebanyak 8 UMKM.
Selain itu, BI juga senantiasa mendorong digitalisasi UMKM antara lain melalui event Torang Go Digital dan Pesona Kie Raha.
Selama 2021, Bank Indonesia terus mengembangkan UMKM di Provinsi Maluku Utara dengan melakukan berbagai pelatihan maupun ekspo seperti Festival Ekonomi Syariah (Feksyar), Karya Kreatif Indonesia (KKI), dan event nasional Gerakan Bangga Buatan Indonesia (GBBI).
“Kami juga memberikan Program Sosial Bank Indonesia (PSBI) dengan total sebesar Rp 4,6 miliar di tahun 2021 dari mulai Beasiswa, Kepedulian Sosial, sampai Pengembangan UMKM di Provinsi Maluku Utara,” tandas Hario.




Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.