Tandaseru — Angka pasien positif Covid-19 terus bergerak turun. Namun di Provinsi Maluku Utara belum ada kabupaten/kota yang masuk dalam zona hijau.
Epidemiolog UMMU dan Koordinator Unicef Wilayah Maluku Utara-Maluku, Irwan Mustafa mengungkapkan, Pemerintah Indonesia masih memberlakukan atau melihat peta zonasi ini sebagai indikator penurunan dan peningkatan kasus.
“Kalau kita lihat data yang disampaikan terjadi penurunan kasus. Satu kabupaten/kota terjadi penurunan zona itu dilihat dari beberapa indikator, yang pertama adalah peningkatan kasus kumulatif Covid-19, kedua angka keterisian tempat tidur di rumah sakit dan yang ketiga adalah angka kesembuhan atau recovery rate,” tuturnya, Rabu (25/8).
“Jadi ketiga indikator yang disebutkan itu naik maka perubahan zona itu bisa berubah, bisa dari kuning ke oranye atau bahkan sampai ke merah. Tetapi ketika indikator ini mengalami penurunan, otomatis status zona itu akan turun,” jelas Irwan.
Selain itu, sambungnya, bisa dilihat juga dari beberapa indikator yang lain.
“Tetapi tiga indikator ini sudah akumulasi atau merepresentasikan perubahan zona. Karena menghitung zona itu ada tiga indikator yang kita pakai, salah satunya terkait dengan surveilans, pelayanan kesehatan dan rumah sakit itu sendiri,” jabarnya.
Untuk 10 kabupaten/kota di Maluku Utara sendiri sejauh ini belum ada yang masuk zona hijau.
Berikut status zona per kabupaten/kota:
- Halmahera Utara zona merah
- Halmahera Barat zona kuning
- Halmahera Tengah zona kuning
- Kepulauan Sula zona kuning
- Pulau Taliabu zona kuning
- Pulau Morotai zona oranye
- Halmahera Timur zona oranye
- Halmahera Selatan zona oranye
- Kota Ternate zona oranye
- Kota Tidore Kepulauan zona oranye
“Belum ada yang hijau. Berdasarkan data ini kita berharap perubahan zona bisa turun terus. Alhamdulillah, kita bersyukur dengan menurunnya kasus Covid-19 di Malut ini berarti angka positive rate kita ini menurun, dipastikan transmisi itu akan berkurang juga,” kata Irwan.
Menurutnya, kunci keberhasilan untuk penanganan pandemi ini adalah kepatuhan protokol kesehatan.
“Karena kita tahu bersama Covid-19 ini penularannya dari orang ke orang, semakin besar peluang orang untuk berinteraksi, semakin besar pula peluang orang untuk bisa terpapar Covid-19, dan sebaliknya pun demikian,” tandas Irwan.


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.