Maka sudah pasti, kognitif merupakan cikal-bakal kemenangan manusia yang berhasil menjadi dominasi hingga monopoli terhadap makhluk lain. Tapi apakah itu puncak kemenangan? Tidak. Kognitif termanifestasi sains melahirkan poros baru konflik, dimana kerenggangan antarmanusia mencuat dengan bantuan sains dan teknologi. Atas nama ideologi, ekonomi dan kepercayaan akhirnya perang pecah dengan saling serbu menggunakan teknologi. Hukumnya biasalah, yang hengkang karena wilayahnya telah direbut, atau bisa juga dikolonialkan.

Namun hari ini perang semacam itu nyaris hilang. Tetapi tidak dengan perang ekonomi, yang terus menghembus menembus waktu. Dengan kamuflase seiring ilmu pengetahuan memberi jawaban. Seperti kata Ekonom tersohor Jerman, Karl Marx: pertentangan muncul akibat dari persoalan ekonomi. Namun untuk digarisbawahi, setiap konflik mendorong transformasi.

Maluku Utara, dengan corak geografis pulau-pulau kecil menjadi sangat rentan terdampak krisis iklim. Maka jangan berharap bisa terbebas dari kenaikan signifikan air laut sebagai akibat dari mencairnya es di Kutub Utara bumi karena kenaikan suhu. Selain itu, daya tampung dan daya dukung lingkungan mulai yang ini nampak tergerus akibat pembukaan hutan berskala besar dan masif oleh tambang yang diserahkan pemerintah, dengan alasan menyerap tenaga kerja dan membantu ekonomi nasional.

Padahal di tengah itu, kala krisis iklim melanda, yang diikuti ancaman krisis pangan sebagai momok yang menakutkan, seiring ketergantungan konsumsi beras sudah tinggi. Beras ya padi. Padi adalah tanaman yang corak pertumbuhannya begitu bergantung pada keadaan dukung alam. Sementara, alternatif cadangan pangan seperti sagu lagi terancam tergusur, sebagiannya sudah tergusur.

Perjuangan Keluar dari Pandemi

Selain ketakutan itu, kenyataan hari ini adalah seluruh manusia di belahan planet bumi tengah berpacu menghadang invasi serangan Corona Virus Disease 2019 atau Covid-19 ke dalam tubuh. Gerak virus diketahui tak mengenal asal manusia, yang penting bisa berpindah dan tumbuh menjalar, tak mengenal orang itu dari kelas borjuis atau proletariat. Bila imun kamu rendah, kena. Kelihaiannya seketika membuat muram wajah perkasa negara dan sirkulasi ekonomi seketika ambruk.