Tandaseru — Masa merebaknya pandemi Covid-19 memang menghambat seluruh aktivitas masyarakat. Namun Risval Tribudiyanto, warga Kota Ternate, Maluku Utara, justru memanfaatkan waktu untuk menekuni hobinya memelihara ikan koi.

Risval yang berstatus sebagai ASN ini sudah jatuh cinta pada ikan sejak duduk di bangku SMA. Saat ini, salah satu sudut rumahnya di Kelurahan Mangga Dua Utara, Ternate Selatan, disulap jadi 5 kolam filtrasi yang dirancang khusus untuk ikan koi.

Koi merupakan ikan hias dari Jepang yang sangat populer di kalangan pencinta ikan. Ikan satu ini memiliki nilai estetika yang tiada duanya. Terlebih, ada banyak ragam motif dan corak ikan koi yang bisa dipelihara.

“Saya memiliki hobi memilihara ikan sejak SMA. Ada beberapa ruangan yang tidak dipakai sengaja saya buat untuk memilihara ikan koi,” kata Risval saat disambangi di kediamannya, Jumat (23/7).

Pasaran ikan koi di Malut ternyata sudah begitu ramai. Kebanyakan peminat berasal dari Halmahera Selatan, Kepulauan Sula, dan Ternate.

Risval Tribudiyanto bersama ikan koi peliharaannya. (Tandaseru/Hariyanto Teng)

“Untuk harga tertinggi yang pernah terjual Rp 6 juta per ekor, berdasarkan kualitas dan ukuran ikan tentunya ,” tutur mantan Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kota Ternate itu.

Bagi Risval, kendala yang dihadapi saat ini adalah lahan. Di sisi lain koi punya prospek yang besar untuk dikembangkan secara profesional.

“Untuk saya sekarang hanya memanfaatkan ruang kosong yang ada. Keterbatasan ruang karena untuk mempercepat pertumbuhan burayak atau anakan ikan ini membutuhkan kolam alami yang luas seperti tambak, ” terangnya.

Proses beternak ikan sendiri terblang cukup sulit. Kadar keasaman air (pH) harus selalu terjaga stabil di angka 6,5-8,5. Lalu total dissolved solid (TDS) atau kandungn terlarut harus -400 agar perkembangan ikan terus terjaga.