“Sempat saya mimpi, entah halusinasi atau apa, ada gambaran mimpi di dalam museum ada penghuni. Orangnya tidak sendiri tapi dengan kelompok, mondar-mandir tapi pakaian tipe tentara,” sambungnya.

Sebagian koleksi Museum Perang Dunia II dan Trikora Pulau Morotai. (Tandaseru/Yunita Kaunar)

Bapak empat anak itu sudah menjaga museum sejak aktif dioperasikan pada 2015. Benda-benda yang ada di situ di antaranya kepala meriam, mortir, bom asap, granat dan alat giling hingga tank dan seragam tentara jadul.

“Jadi sedikit banyak tahu tentang isi museum dan hal lain. Atas keinginan sendiri jadi pemandu. Kita di sini karena punya kelompok benda jadi pemandu di sini bisa menceritakan isi koleksi yang ada,” ungkapnya.

Di tahun 2015 lalu, Muhlis dan beberapa temannya yang menjaga museum mendapat uang jaga tiap bulan Rp 750 ribu. Ditambah lagi Pemerintah Kabupaten Pulau Morotai memberi biaya pembersihan saat museum masih berada di Desa Juanga sebesar Rp 1 juta.

Setelah museum pindah ke Wawama, Muhlis rutin diupah Rp 1 juta.

Satu hal yang kurang dari pengelolaan museum, kata Muhlis, adalah belum maksimalnya peningkatan sumber daya manusia pengelola museum. Alhasil, panduan yang diberikan pada pengunjung pun itu-itu saja.

Ia berharap pemda memberikan bimbingan berupa studi banding di daerah lain yang pengelolaan museumnya lebih maju.

“Kita butuh dinas terkait tingkatkan bimbingan atau studi banding. Ya lebih diperhatikanlah aset daerahnya,” tandas Muhlis.