Tandaseru — Pria 45 tahun itu biasa disapa Om Muhlis. Nama lengkapnya Muhlis Aramin, asal Desa Joubela, Kecamatan Morotai Selatan, Kabupaten Pulau Morotai, Maluku Utara.

Muhlis menjaga Museum Perang Dunia II & Trikora yang terletak di Desa Wawama, Morotai Selatan, sejak 2015. Ia juga setia memandu tamu-tamu berkeliling melihat koleksi museum.

Muhlis Aramin, penjaga Museum Perang Dunia II dan Trikora Pulau Morotai. (Tandaseru/Yunita Kaunar)

Sejarah Morotai sebagai salah satu basis pertahanan pasukan Sekutu dalam PD II berusaha dipertahankan pemerintah dengan mendirikan museum tersebut. Isinya kebanyakan adalah benda-benda dan memorabilia peninggalan perang. Di halaman terdapat beberapa tank berdiri gagah mengawal bangunan museum yang dibagi menjadi dua sayap.

Bagi Muhlis, menjaga museum tak sekadar pekerjaan mengamankan bukti peninggalan sejarah. Suami Alwia Dauwal ini juga harus berkawan akrab dengan hal-hal mistis yang kadang sulit diterima akal sehat.

Museum Perang Dunia II dan Trikora Pulau Morotai. (Istimewa)

Sebagai penjaga, Muhlis kerap menginap di museum tersebut. Lokasi museum terbilang jauh dari permukiman penduduk. Hanya baru-baru ini saja dibangun tempat ngopi di belakang museum, tepat menghadap laut.

Hal mistis yang dialami Muhlis mulai dari mendengar suara aneh hingga terpapar bayangan.

“Yang namanya peninggalan pasti ada aura tertentu. Sering malam saya lihat ada bayangan, terus di dalam museum ada langkah orang berjalan. Saat saya periksa ternyata tidak ada orang. Tentu merinding. Kalau hal-hal seperti ini saya dapat sudah berulang-ulang kali karena saya tidur di sini,” ceritanya kepada tandaseru.com, Minggu (18/7).