Oleh: Sofyan A. Togubu
Alumni Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Unkhair
______
INFORMASI dan teknologi yang berkembang amat pesat ini membawa perubahan dan memberi dampak terhadap kehidupan sosial. Game onilne dan pelajar adalah tema representasi realitas yang tengah tumbuh subur saat ini. Ada sebagian pelajar di Maluku Utara ditemui menghabiskan waktu dengan game online, permainan daring yang sedang marak dimainkan anak zaman sekarang misalnya PUBG yang ketika dikaji lebih dalam banyak memiliki dampak ke arah negatif dan tidak produktif serta meresahkan.
Permainan game online dalam kurun waktu yang sangat lama juga dapat mempengaruhi psikologis pelajar dengan timbulnya emosi dan stres. Dengan demikian dampak kesehatan dan psikologis yang ditimbulkan dikhawatirkan akan mudah mempengaruhi tingkat belajar dan tumbuh kembang remaja saat ini.
Sebelumnya, penulis meluangkan waktu melakukan pengamatan sederhana dengan diskusi berbagai kalangan baik mahasiswa, akademisi bahkan masyarakat dan sampelnya bahwa benar ada pelajar menjadikan game online (PUBG) sebagai hobi yang itu sangat meresahkan sebab hobi tidak produktif yang seharusnya belajar malah menghabiskan waktu dengan percuma. Di Kabupaten Pulau Morotai misalnya, penulis mencermati sekelompok pelajar baik SMP dan SMA duduk di tempat-tempat tertentu mulai dari pagi hingga dini hari, mereka menghabiskan waktu hanya untuk PUBG. Belum lagi, dalam permainan sering bahasa senonoh terlontarkan seperti “anjir” yang konotasinya negatif bahkan ada yang lebih ekstrem.
Di beberapa media, telah memuat dampak negatif dari permainan game online (PUBG) ini. Mengutip media Serambinews.com dengan judul Ini Dampak Negatif Game PUBG bagi Perkembangan Anak, dengan meminta peryataan Jasmadi S.Psi,MA seorang Psikolog sekaligus Dosen Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh memaparkan dampak permainan game PUBG terhadap perkembangan psikologis anak dan remaja.
Beberapa dampaknya yaitu kecanduan. Bermain game dijadikan sebagai salah satu masalah kesehatan di dunia oleh WHO, dan memasukkannya sebagai salah satu kategori penyakit paling umum yang terjadi di dunia. Dampak negatif lainnya adalah meningkatkan agresifitas pada anak, karena permainan game ini mengandung kekerasan pada level tinggi. Selanjutnya dapat mengubah pola pikir, sikap dan perilaku. Hal itu sangat mungkin terjadi karena kondisi emosi dan kepribadian anak dan remaja yang masih labil. Dan dampak lainnya adalah dapat menurunkan kesehatan, sebab penggunaan gadget yang berlebihan menyebabkan kerusakan pada mata, kelelahan pada tangan, dan anggota tubuh lain, bahkan obesitas karena kurang gerak.
Selain itu, ada jurnal pernah menulis kaitan dengan PUBG ini seperti dikutip jurnal ScienceEdu Pendidikan IPA ditulis Ach Fauzi dengan judul “Pengaruh Game Online PUBG (Player Unknown’s Battle Ground) terhadap Prestasi Belajar Perserta Didik” yang kesimpulannya bahwa salah satu permainan berbasis online ini sangat digemari karena mendapat kesenangan, mengurangi stres, bertemu dan berkenalan dengan banyak teman, gratis, meningkatkan kerja sama, meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris, terhindar dari pergaulan bebas dan narkoba, dan permainan yang dapat dimainkan dimana dan kapan saja, namun setiap permainan jika tidak diimbangi dengan kontrol diri maka akan membuat pemainnya kecanduan dan membuat prestasi belajar siswa menurun.
Lebih parahnya lagi, atas dampak ketagihan game PUBG ini berimbas perilaku buruk pelajar. Seperti termuat di media Kompas.com terbitan tahun 2019 lalu salah satu siswa kelas 6 SDN Banjarpanjang, Kabupaten Magetan bolos sekolah 4 bulan gara-gara kecanduan game online. Oleh karena itu, hemat penulis ke depan dengan semakin maraknya game online, akademisi dan pihak tertentu membuat riset terkait hal ini, sehingga lebih mudah bagi dinas terkait mengambil kebijakan mengantisipasi agar pelajar tidak terhanyut pada hobi meresahkan ini. Perlu kiranya peran penting orang tua untuk mengarahkan dan mengontrol anaknya dan instansi terkait seperti Dinas Pendidikan Maluku Utara dan lebih khususnya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pulau Morotai serta pendidik untuk meminimalisir dampak yang akan terjadi ke depan. Harusnya, dinas terkait melihat ini sebagi bahan evaluasi agar tingkat belajar siswa tidak terganggu dan dampak yang lain akan terjadi pada pelajar.(*)




Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.