Tandaseru — Pengasuh Majelis Dzikir Da’arul Khairat Kabupaten Pulau Morotai, Maluku Utara, Ustaz Habib Fachrul Fajri Alhamid meminta agar Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab (RHS) dibebaskan.

“Kita minta beliau (HRS, red) dibebaskan,” katanya Fachrul kepada tandaseru.com, Kamis (17/12).

Selain dibebaskan, Fachrul juga mendesak Polri untuk transparan menangani kasus penembakan enam laskar FPI.

“Diperjelas terkait dengan penembakan terhadap laskar FPI juga, harus transparan karena institusi Polri ini adalah harapan anak bangsa untuk keadilan. Kalau umpamanya tidak terbuka dan tidak transparan, khawatir institusi Polri tidak lagi dipercayai oleh masyarakat,” tegas dia.

Ia menilai, sejauh ini penanganan kedua kasus tersebut belum memberikan rasa keadilan bagi pihak korban maupun umat Islam secara umum.

“Ini terjadinya masalah seakan-akan dicari-cari. Beliau bukan koruptor, beliau tidak merugikan negara, beliau tidak memerangi negara. Beliau hanya menyuarakan apa yang menurut beliau soal sebuah kebenaran,” cetusnya.

Fachrul menambahkan, ada cara-cara yang lebih baik yang bisa diambil negara. Sebab HRS pun pernah menawarkan untuk berdialog dengan Presiden soal kemaslahan negara.

” Ajak beliau HRS untuk berdialog. Apalagi beliau sendiri sempat untuk menawarkan rekonsoliasi berdialog dengan Presiden atau Pemerintah. Untuk berbicara tentang kemaslahatan negara. Jadi negara sendiri tidak boleh terlalu keras, seakan-akan bahwa negara anti kepada segala-galanya,” tambah dia.

Fachrul berharap agar pemerintah jangan menjadikan HRS sebagai musuh negara.

“Ajak beliau berdialog, kalau maunya negara ini menjadi stabil. Supaya kita jangan disibukkan dengan kericuhan sana-sini. Pemerintah sibuk mengatasi pandemi corona dan pemulihan ekonomi, sebaiknya beliau diajak dialoglah,” ucapnya.

Ia menegaskan, untuk kasus penembakan laskar FPI, Presiden harus turun tangan. Sebab ada banyak kejanggalan yang menjadi pertanyaan publik.

“Ini harus dilakukan, bukan hanya diserahkan ke Komnas HAM. Presiden harus turun tangan tegas untuk melakukan penyelidikan dengan seakurat mungkin dan seterang-terangnya, karena ada sesuatu yang janggal, umpamanya Mobil Xenia yang dikatakan digunakan untuk menembak mereka, empat orang yang tewas di dalam mobil itu,” jelasnya.

“Jadi kita minta juga untuk pihak kepolisian benar-benar harus memberikan akses yang luas bagi Komnas HAM untuk melakukan penyelidikan terkait dengan masalah itu,” tandas Fachrul.