Tandaseru — Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Pulau Morotai, Maluku Utara bakal memberikan sanksi tegas bagi guru Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang tak ikut swab test Covid-19. Sebelumnya, Pemerintah Daerah memang telah memutuskan semua guru dan perangkat desa akan dites untuk meminimalisir penyebaran virus corona.
Kepala Dikbud Pulau Morotai F. Revi Dara ketika dikonfirmasi, Selasa (1/12) mengatakan, jika ada guru tidak ikut swab test yang dilakukan Tim Satgas Covid-19 Morotai, akan diberi sanksi berupa penahanan Tunjangan Kinerja Daerah (TKD).
“Jadi kita akan tahan tunjangan kinerja mereka. Dalam arti bahwa kalau mereka tidak mau berarti risiko kan berdampak pada keluarganya dan anak didik, jadi sedini mungkin mereka harus ikut swab test supaya mereka tahu bahwa mereka sehat agar mereka mengajar ke anak-anak pun tidak terlalu ragu-ragu karena dalam diri mereka tidak terdeteksi virus. Jadi swab test ini tujuannya untuk mendeteksi apakah virus ada dalam diri mereka atau tidak,” kata Revi.
“Jadi akan diberikan sanksi bagi guru-guru yang tidak mau ikut swab test,” tegasnya.
Tak hanya guru dan kepala sekolah, petugas cleaning service di sekolah juga wajib mengikuti swab test. Hal ini untuk menjaga lingkungan sekolah steril dari virus corona.
“Itu kerja sama dengan Dinas Kesehatan, RSUD dan Dinas Pendidikan. Itu sudah diinstruksikan,” ujar Revi.
Menurutnya, sudah jauh hari sebelumnya kebijakan swab test untuk guru PAUD, SD, dan SMP disampaikan.
“Iya, sesuai dengan kewenangan di Dinas Pendidikan. Jadi surat saya itu hari Kamis yang lalu sudah saya layangkan kepada semua kepala sekolah yang ada di dalam kota, karena tahap pertama di kota dulu baru di beberapa kecamatan lainnya. Jadi tahap pertama saya layangkan di Morotai Selatan kemudian dari dalam kota itu mulai dari Desa Pilowo sampai dengan Desa Wawama. Tapi jadwalnya menyesuaikan,” jelasnya.
Ia bilang, jadwal pelaksanaan swab test sebenarnya sudah diatur. Namun pada beberapa hari tertentu harus disesuaikan karena bertepatan dengan jadwal masuknya kapal. Dimana penumpang kapal yang tiba di Morotai hingga hari ini masih tetap harus menjalani rapid test dan swab test.
“Swab-nya itu disesuaikan dengan jadwal kapal karena menurut Kepala Rumah Sakit bahwa jadwal kapal itu kan full, sehingga dua hari itu full. Jadi kecuali dua hari itu yang tidak bisa dilakukan swab karena banyak orang. Satu hari maksimum itu 50 sampai dengan 100 orang saja. Tapi di luar dari dua hari itu guru-guru bisa di-swab. Tapi jadwal kami sudah keluarkan dan disampaikan ke kepala-kepala sekolah baik PAUD, SD dan SMP yang difokuskan di SD Unggulan I Daruba,” tandas Revi.
______


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.