Oleh: Rahmat Mustari

 

DUA hari lalu saya terhadap politik Om Jiko di Halmahera Utara yang cenderung meletakkan budaya sebagai jalan politik dan kekuasaannya. Ada yang bilang tulisan saya itu sebagai sikap politik saya terhadap salah satu kubu meski tulisan saya itu memiliki konteks, dalam artian tulisan saya itu lahir sebagai tanggapan terhadap peristiwa spesifik. Meski demikian, saya memaklumi tanggapan itu, karena saya menulis dalam momen pemilihan kepala daerah.

Kali ini, saya menulis tanggapan saya terhadap tanggapan-tanggapan sebagian orang yang bagi saya agak berlebihan yang dialamatkan kepada Haji Said Badjak. Apalagi tanggapan-tanggapan itu dilabeli dengan agama (Islam). Bahkan sampai pada klaim diri bahwa yang dikatakannya (tanggapan) adalah itu mutlak pandangan agama.

Mungkin bagi sebagian orang, melihat tanggapan-tanggapan yang dialamatkan kepada Haji Said Badjak (selanjutnya saya tulis HSB saja) adalah tak lain riak politik saja, karena HSB telah dipandang secara politis. Dan ketika momen politik selesai, orang-orang itu akan memandang HSB sebagaimana biasanya. Tapi mungkin bagi saya, tanggapan-tanggapan yang berlebihan itu bisa berakibat pada hal-hal lain. Ada beberapa tanggapan yang saya kemukakan untuk membantah tuduhan-tuduhan berlebihan yang ditujukan kepada HSB.

  1. HSB dituduh telah melakukan praktik syirik setelah mengikuti prosesi ritus Tonamalangi yang dilakoni Om Jiko?
  2. Jadi orang sesat. Meminta suaka pada kuasa gelap. Astagfirullah, pulanglah mandi bersih dulu.
  3. …meminta restu alam dan arwah para leluhur …tidak bisa dilakukan secara vulgar dalam bentuk upacara yang dibuat-buat (konstruk), karena itu akan mengundang spekulasi dan tafsiran publik yang negatif. Kenapa negatif, karena praktek yang tidak umum, dilakukan oleh orang yang beragama, standar penilaian publik adalah agama yang dianut sehingga ketika bertentangan dan ataupun tidak sesuai dengan ajaran agama…
  4. …masyarakat Halut, jangan karena politik kita benarkan yang salah (yang ini dialamatkan pada Om Jiko. Dinilai ritus Tonamalangi adalah ritus yang baru di antara ritus yang lain dalam suku adat yang ada di Halmahera Utara).
  5. Hanya Muslim yang tidak paham konsep syirik itulah berani melakukan begitu…
  6. Sebuah demonstrasi adat yang tak patut dilakukan khusus bagi kanda Hi. Said Bajak. Karena parade adat di atas bila ditakar dalam perspektif aqidah Islam adalah masuk dalam kategori praktek syirik akbar. Lain hal dengan Om Hein dan kanda Yoel, mungkin tidak berada dalam kategori syirik. Tapi yakinlah di hampir semua agama samawi (agama langit) yakni Yahudi, Nasrani dan Islam memiliki nilai-nilai agama yang sakral yang dapat menjadi wahana penilai terhadap semua aktivitas hidup manusia termasuk adat.

 

Enam poin yang saya muat ini, saya pungut dari postingan-postingan facebook, di grup maupun akun pribadi.

Tampaknya, kita masih gagap menanggapi ritual adat dan budaya dengan cara pandang agama. Seolah apa yang dilakukan seseorang yang beragama dalam prosesi adat adalah penyimpangan dari agama, syirik. Kegagapan ini bagi saya disebabkan satu dan lain hal. Saya menduga saja, kita gagap karena terlalu memaksa diri berbicara atas sesuatu yang sesuatu itu amat asing dari kepala kita. Atau kita membatasi satu perspektif yang tidak relevan terhadap apa yang ingin kita tanggapi. Atau juga, tiba-tiba menjadi penyuluh agama.