Tandaseru — Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Maluku Utara resmi melaporkan pemilik akun Facebook Hafid Hasanudin ke Direktorat Krimsus Polda Maluku Utara, Senin (8/6). Hafid dinilai telah melecehkan profesi dokter dan perawat.
Ketua IDI Malut, dr. Alwia Assagaf saat diwawancara tandaseru.com mengungkapkan, unggahan status Hafid amat tidak pantas, terutama di masa pandemi Covid-19 ketika dokter dan perawat justru sedang berupaya melayani masyarakat. Dalam kondisi ini, kata dia, tenaga medis berusaha keras agar pasien yang diduga atau telah terkonfirmasi Covid-19 bisa sembuh dan berkumpul kembali dengan keluarga.
“Kami dari Ikatan Dokter Indonesia wilayah Maluku Utara yang menyampaikan aduan bersama-sama dengan PPNI. Harusnya dilaporkan tadi pagi, tetapi teman-teman dokter ini memiliki kewajiban melayani pasien pagi, misalnya Ketua Bidang Hukum dr. Irwan Soleman yang harus melayani operasi persalinan jadi kami tidak bisa datang pagi,” ungkap Alwia.
Alwia menyatakan, ucapan Hafid lewat akun Facebook-nya telah melukai hati para tenaga medis. Di saat mereka harus rela kehilangan waktu berkumpul dengan keluarga, ada pihak-pihak yang justru menuding mereka sesuka hati.
“Kalau hati kita merasa tidak enak, tentu akan menurunkan semangat para dokter dan perawat untuk bekerja. Saya mendapatkan keluhan dari teman-teman, kemudian saya setuju mengajukan aduan ini. Saya berharap ini jadi pembelajaran ke masyarakat, juga kepada teman-teman petugas medis ini bisa memberi semangat supaya dalam bekerja nanti tidak merasa bahwa mereka tidak dipedulikan masyarakat,” tuturnya.
Menurut Alwia, selama ini sudah banyak akun yang mengatakan para dokter sengaja meng-Covid-kan pasien yang sebenarnya tidak menderita Covid-19. Bahkan dokter dituding mengambil keuntungan dari wabah ini.
“Padahal kalau bisa memilih pasien mana yang akan dirawat, dokter akan lebih memilih pasien sakit biasa, karena risiko tertular saat merawat pasien Covid-19 sangat besar,” ungkapnya.
Buktinya, sambung Alwia, sampai hari ini sudah ada 31 dokter yang meninggal setelah terpapar Covid-19. Kondisi ini tak lantas membuat dokter mundur. Sebaliknya, mereka terus merawat pasien terduga maupun positif Covid-19.
“Semata-mata agar secepatnya mereka sembuh dan dapat berkumpul dengan keluarga,” sambungnya.
Alwia bilang, permintaan para dokter hanya agar masyarakat memperhatikan dan melaksanakan protokol pencegahan Covid-19. Dengan begitu secepatnya dapat memutus mata rantai penularan Covid-19.
“Karena jika hal ini tidak diindahkan masyarakat, maka peningkatan pasien Covid-19 akan terjadi, rumah sakit akan mengalami overload dan para dokter pun akan mengalami kelelahan. Jadi jangan ditambah lagi dengan postingan seperti ini. Pilihan percaya hoaks sebagai kebenaran ada pada masyarakat, namun tolong sedikit lebih hati-hati dan menganalisis realita juga diperlukan,” tegasnya.
Tinggalkan Balasan