Oleh: Fahmi Djaguna

Sekretaris ICMI ORDA Pulau Morotai

________

SORE 16 Februari 2026, menjelang magrib, sebuah status WhatsApp dari seorang senior, Kanda Mauludin Wahab, melintas di layar. Kalimatnya pendek, tetapi seperti karang yang menyimpan samudra makna; Gusungi ma Bunga Ruru Ara Fane Manunako: Menjemput 1 Ramadan.” Sebuah dolabololo, sastra lisan Ternate, sekaligus dalil tifa orang Maluku Utara. Kata-kata yang tidak sekadar dibaca, tetapi diendapkan.

Saya kemudian meminta beliau menafsirkan maknanya. Sebab di pesisir Morotai, Ramadan dulu dibaca dari laut. Dari gelombang. Dari karang. Dari sunyi. Sementara kini, penentuan 1 Ramadan sering memantik perdebatan antara rukyat dan hisab, antara kalender dan teleskop, antara otoritas dan keyakinan. Namun bagi orang tua di pulau-pulau, Ramadan bukan hanya perkara tanggal. Ia adalah peristiwa batin.

Dolabololo itu berbunyi; Gusungi ma Bunga Ruru Ara Fane Manunako.” Secara harfiah; hanyutnya bunga karang di permukaan laut, menjadi pertanda bulan baru telah hadir. Ketika karang-karang kecil itu mengapung, malam itulah bulan baru. Malam itulah Ramadan tiba.

Inilah kalender sunyi masyarakat pesisir. Sebuah pengetahuan yang lahir dari kesabaran membaca alam. Bukan kalender kertas, bukan aplikasi digital, melainkan samudra sebagai penunjuk waktu. Orang tua di Maluku Utara, khususnya di Morotai, dulu mengutus imam atau tokoh agama ke laut, menanti tanda dari alam. Mereka tidak menganggap keterbatasan alat sebagai kekurangan ilmu. Justru dari keterbatasan itu lahir kearifan.

Kita, generasi modern, sering terlalu percaya pada penemuan teknologi untuk memastikan sesuatu. Teleskop canggih, data astronomi, hingga notifikasi kalender di gawai. Namun di tengah kecanggihan itu, kita kadang lupa bahwa alam juga memiliki bahasa. Bahwa iman pernah bertumbuh dalam kesunyian tanpa listrik, tanpa radio, tanpa siaran langsung sidang isbat.

Di pesisir, orang tua mengajarkan alam dan iman saling menjemput. Ketika laut berubah, hati pun bersiap. Ketika karang hanyut, manusia menunduk. Ramadhan bukan sekadar tiba namun ia dijemput dengan kesadaran.

Kearifan lokal seperti dolabololo dan dalil tifa bukan sekadar romantika masa lalu. Ia adalah cara masyarakat memaknai waktu sebagai bagian dari spiritualitas. Dalam tradisi itu, manusia tidak berdiri di atas alam, melainkan berdampingan dengannya. Seperti mutu manikam yang saling membutuhkan dan saling melengkapi.

Di sinilah kita melihat jembatan antara tradisi lokal dan khazanah keislaman klasik. Mazhab Imam Hanafi dan Imam Syafi’i berbicara tentang rukyat dan hisab sebagai cara menentukan awal puasa. Sementara Imam al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin mengingatkan bahwa puasa bukan hanya menahan lapar. Ia membagi puasa dalam tiga tingkatan yakni puasa orang awam yang menahan fisik, puasa orang khusus yang menahan seluruh anggota tubuh dari dosa, dan puasa sangat khusus, puasa hati dari selain Allah.

Orang tua di Morotai mungkin tidak membaca Ihya Ulumuddin dalam bentuk kitab tebal. Tetapi mereka mengamalkannya dalam bentuk kesadaran hidup. Menunggu tanda dari laut adalah latihan kesabaran. Membaca alam adalah latihan kerendahan hati. Menjemput Ramadan dengan sunyi adalah latihan batin.

Di ambang hilal, kita sebenarnya berdiri di ambang kesadaran. Apakah Ramadan hanya datang sebagai rutinitas tahunan, dengan jadwal imsak dan buka puasa yang rapi di ponsel? Ataukah ia datang sebagai tamu agung yang dijemput dengan hati yang bersih?

Perdebatan tentang kapan 1 Ramadan sering menguras energi. Tetapi orang tua di pesisir mengajarkan hal yang lebih mendasar yakni yang terpenting bukan hanya kapan Ramadan dimulai, melainkan bagaimana kita memasukinya. Jika hati belum siap, bahkan hilal yang paling jelas pun tak akan terlihat.

Dolabololo itu mengingatkan kita bahwa modernitas tidak harus memutus akar tradisi. Teknologi boleh membantu melihat hilal, tetapi kearifan lokal membantu melihat diri sendiri. Teleskop memperjelas langit, tetapi pengalaman leluhur memperjelas makna.

Maka di ambang hilal tahun ini, mungkin kita perlu berhenti sejenak. Mendengar laut. Mengingat nasihat orang tua. Bahwa Ramadan bukan hanya peristiwa astronomi, melainkan peristiwa rohani. Bahwa bulan baru bukan hanya muncul di langit, tetapi juga di hati.

Ketika bunga gusungi hanyut di laut, orang tua dulu berkata; malam ini bulan baru. Kini, mungkin tanda itu berubah bentuk. Namun pesan filosofisnya tetap sama yaitu setiap Ramadan adalah kesempatan untuk memulai ulang. Untuk menenangkan diri di tengah riuh dunia. Untuk menjemput Tuhan dalam kesunyian.

Di ambang hilal, kita belajar bahwa keterbatasan bukanlah kekurangan. Ia adalah pintu menuju kearifan. Dan dari pesisir Morotai, orang tua telah lama mengajarkan satu hal sederhana namun dalam; Ramadan datang bukan hanya untuk ditentukan, tetapi untuk dirasakan. Wallahualam(*)