Tandaseru — Di pesisir Kalumata yang mataharinya terbit bersama debu dan peluh, Ayub belajar tentang arti harapan dari tangan ibunya sendiri. Siti Nur, perempuan sederhana kelahiran Tuguiha, Tidore, dengan telapak tangan yang kasar oleh kerja, menghidupi mimpi mereka dari sesuatu yang tampak sepele bagi banyak orang.
Setiap pagi sebelum kampung benar-benar terjaga, Siti Nur sudah berdiri di tepian pantai. Dengan sekop tua dan karung lusuh, ia mengumpulkan pasir sedikit demi sedikit. Ayub, dengan langkahnya, ikut membantu. Bukan karena ia diminta, tetapi karena ia tahu setiap karung pasir adalah satu langkah menuju mimpi mereka untuk ikut berlari di Tidore Family Run 2026.
Bagi sebagian orang, berlari hanyalah olahraga. Bagi Ayub, berlari adalah kebebasan. Dan bagi Siti Nur, itu adalah cara melihat anaknya tersenyum tanpa beban kemiskinan, walau hanya beberapa kilometer.
Hari-hari mereka dipenuhi kerja keras. Panas matahari tak pernah menjadi alasan untuk berhenti. Hujan pun tidak cukup kuat untuk mematahkan tekad. Pasir demi pasir dijual, receh demi receh dikumpulkan, hingga perlahan mimpi itu mulai terlihat nyata.
“Suatu hari nanti, Ayub akan berlari lebih jauh dari garis pantai ini,” kata Siti Nur dalam hati.
Ketika pendaftaran Tidore Family Run akhirnya dibuka pada Februari 2026, mereka datang bukan dengan kemewahan, melainkan keberanian. Uang yang terkumpul dari pasir yang tak terhitung jumlahnya kini berubah menjadi nomor peserta yang sederhana — namun terasa seperti medali kemenangan.
Minggu 25 Februari 2026, Ayub dan Siti Nur memulai langkahnya dari Ternate menuju Tidore sejak pukul 3.00 WIT, memanfaatkan uang hasil penjualan pasir, anak dan ibu dengan tekad yang membatu itu lebih dulu tiba di pelabuhan Rum Tidore sebelum matahari hadir. Dan pada saat bendera start Tidore Family Run siap dikibarkan, Ayub telah berdiri dengan mata berbinar dan menyatu bersama ratusan peserta penuh aba-aba di garis start.
Sepatunya mungkin bukan yang paling mahal. Tetapi semangatnya lebih besar dari siapa pun di sana pagi itu.
Di antara kerumunan pelari, Siti Nur sang ibu berdiri dengan mata yang berkaca-kaca. Ia tidak ikut berlari di lintasan, tetapi setiap langkah Ayub adalah langkahnya juga — langkah seorang ibu yang mengubah pasir menjadi harapan.
Tidore bukanlah langkah baru bagi Ayub, sebab Ayub telah berulang kali menaklukkan segala lintasan, mulai dari Ternate, Maitara, hingga Hiri, Ayub telah menjadi bagian dari cerita penaklukan lintasan running.
Ketika Ahmad Laiman, Wakil Wali Kota, mengangkat bendera start tanda Lintasan Tidore Family Run 2026 terbuka bagi para peserta, Ayub langsung tancap gas dan berlari. Bukan untuk menjadi yang tercepat, bukan untuk menjadi juara. Ia berlari untuk ibunya.
Dan di setiap jejak kaki kecil yang tertinggal di jalan Tidore pagi itu, ada kisah tentang cinta yang lebih kuat dari kemiskinan, tentang perjuangan yang lebih kokoh dari batu karang, dan tentang mimpi yang lahir dari butiran pasir.
Karena kadang-kadang, sejarah besar tidak dimulai dari istana atau panggung megah — melainkan dari seorang ibu, seorang anak, dan segenggam pasir di tangan mereka.
Keikutsertaan Ayub dalam ajang ini tidak hanya meninggalkan jejak di aspal, tetapi juga berbuah manis pada sesi apresiasi kreatif. Ayub berhasil meraih penghargaan sebagai juara favorit dalam lomba foto “Tidore Jang Foloi” yang merupakan rangkaian dari kegiatan Tidore Family Run.
Pihak penyelenggara, Ide Creative, mendatangi langsung kediaman Ayub di Kalumata pada Senin (9/2/2026) untuk menyerahkan hadiah tersebut. Penyerahan hadiah baru dilakukan saat itu karena penilaian kategori juara favorit membutuhkan waktu minimal satu minggu setelah unggahan di media sosial untuk menghitung dukungan publik.

Bagi Siti Nur, keberhasilan Ayub bukan sekadar tentang medali atau hadiah, melainkan simbol kemenangan atas kerasnya kehidupan.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.