Oleh: Anwar Husen

Pemerhati Sosial/Dewan Pakar KAHMI Maluku Utara

_______

Pesannya, jika tak paham maka bertanyalah. Jangan membiasakan hal-hal buruk. Buruk itu bisa berarti tidak normatif, tidak logis, tidak produktif, mengejar ri’ya, menambah masalah, hingga mungkin menciptakan masalah baru

ANGGAP, atau sebut saja tulisan kali ini adalah esai kocak. Mumpung akhir pekan. Tak perlu terlalu serius membacanya. Yang harus lebih diseriusi adalah merenunginya setelah dibaca. Agar kita sama, sama-sama merenungi. Urusan salah-benar bagi saya itu perspektif. Karena esai inipun, buah dari sedikit renungan sore kemarin. Inspirasinya saat menemani sang istri menyelesaikan pekerjaan domestik rumah tangga. Di saat sama, bunyi pengajian di menara masjid jelang waktu ashar begitu memekakkan. Sebuah kebiasaan yang dilanggengkan sudah cukup lama, dengan segala silang pendapat yang menyertainya.

Jika diminta memilih urutan opsinya membilas hasil cucian dengan air yang sama, Anda memilih mana yang lebih duluan: pakaian yang paling disenangi dipakai atau semua jenis pakaian dalam.

Ini yang kedua. Kita bersepakat bahwa fungsi utama sesuatu benda itu, dikaitan dengan frekuensi atau intensitas paling dominan di gunakan. Fungsi utama rumah domisili adalah tempat tinggal dan berteduh. Begitu juga pasar, tempat transaksi jual beli. Dan masjid, gereja, pura, vihara dan klenteng, adalah tempat atau bangunan yang dibuat dengan sengaja sebagai sarana beribadah. Dan, jika asumsinya orang beribadah di masjid itu rata-rata paling lama 10 menit, sedangkan bunyi pengajian di menaranya rata-rata 60 menit menjelangnya. Maka menurut Anda, fungsi tempat ibadah itu adalah logis sebagai tempat untuk beribadah, atau tempat mendengar bunyi pengajian? Istilah teman saya, toko kaset.

Memilih satu di antara dua opsi sebagai contoh dalam kasus ini, dan memberi alasannya, bisa merupakan gambaran paling simpel bagaimana kualitas sebuah keputusan di pengaruhi oleh cara berpikir, mindset.

Dalam kasus pertama, orang yang rasional mungkin berpikir bahwa secara praktis, pakaian dalam harus diprioritaskan dalam urutan membilas, karena langsung melekat pada tubuh saat digunakan. Kondisi dan kebersihannya bisa sensitif memengaruhi kesehatan kulit.

Dan dalam kasus kedua, orang yang rasional akan berpikir tentang fungsi utama sesuatu itu. Bukan fungsi ikutan, “lampiran”, atau bahkan sengaja di tambah-tambah agar terkesan religius. Belum lagi akibat lainnya yang mengganggu ketentraman dan kenyamanan warga sekitar. Dan tulisan ini, ingin dikontekskan pada kasus kedua itu.

Saya mengutip artikel ini dari Detiknews, teori lawas bahwa manusia hanya butuh 21 hari atau 3 minggu untuk mengubah dan membentuk sebuah kebiasaan dipatahkan penelitian baru. Sebelumnya, ahli bedah plastik Maxwell Maltz merilis buku berjudul Psycho-Cybernetics pada 1960 yang kelak jadi populer. Dalam interpretasinya di buku tersebut, Maltz menyatakan, manusia cuma perlu 21 hari untuk mengubah kebiasaan dan membentuk kebiasaan baru.

Kini, peneliti dari California Institute of Technology (Caltech), University of Chicago, dan University of Pennsylvania menemukan, ketimbang magic number 21 hari, orang membentuk kebiasaan lebih lama, yakni sekitar 4-7 bulan untuk terbiasa rutin berolahraga. Namun, sesuai konteksnya, tenaga kesehatan hanya butuh beberapa minggu untuk terbiasa mencuci tangan. Simpulannya, pembentukan kebiasaan baru tergantung pada tiap orangnya, perilakunya, lama waktu dan besar usaha yang dibutuhkan, serta seperti apa pemicunya. Tim peneliti berpendapat, temuan ini dapat digunakan untuk mengatur intervensi yang tepat terhadap kebiasaan orang sesuai konteks spesifiknya, dan beberapa hal lainnya.

Riset ini menunjuk kebiasaan spesifik dan personal pada kelompok orang “berpengetahuan”, yang membutuhkan 4-7 minggu untuk “berproses” mengubah kebiasaannya.

Dalam konteks sosial, kebiasaan atau pengulangan itu dibentuk oleh persepsi dan pengetahuan terhadap sesuatu nilai. Dan tak selalu berarti bahwa itu positif. Bisa saja negatif. Tata nilai sosial dibentuk oleh tingkat penerimaan individu-individu dalam skala kelompok sosial tertentu, variabel yang berpengaruh, dan dalam jangka waktu tertentu pula.

Sebegitu pentingnya kebiasaan dalam proses pembentukan dan transformasi tata nilai positif dalam kehidupan sosial, hingga dikaitkannya dengan variabel kepemimpinan karena fungsinya yang strategis dalam mendorong transformasi sosial. Makanya, kepemimpinan di segala level tak bisa dipegang oleh orang bodoh, kurang berpengetahuan. Termasuk di level terendah tetapi posisinya strategis sebagai garda terdepan transformasi tata nilai positif, pengelola tempat ibadah.

Variabel kebiasaan ini begitu kuat pengaruhnya dalam proses pembentukan, penerimaan, hingga upaya mempertahankan tata nilai di level komunitas sosial sederhana, dan rentan terjebak. Di samping variabel pengetahuan, cara berpikir dogmatis, dan taqlid buta.

Dan kutipan riset di atas, sekedar menegaskan bahwa yang namanya kebiasaan, itu terbentuk dari proses yang begitu mudah. Entah disadari ataupun tidak. Cukup tindakan pengulangan yang konsisten. Terlepas dari nilai baik-buruknya, produktif atau tidak, atau bahkan persepsi benar-salahnya. Tetapi yang pasti, proses penerimaan tata nilai, hanya akan melalui kesadaraan karena variabel pendidikan dan lingkungan sosial, atau pemaksaan [intervensi]. Pesannya, jika tak paham maka bertanyalah. Jangan membiasakan hal-hal buruk. Buruk itu bisa berarti tidak normatif, tidak logis, tidak produktif, mengejar ri’ya, menambah masalah, hingga mungkin menciptakan masalah baru. Wallahua’lam. (*)