Tandaseru – Di balik riuh rendah klakson angkutan umum dan hiruk pikuk Pasar Buah dekat Terminal Ternate, Maluku Utara, sebuah lapak kecil terselip dengan tenang. Di sana, Ilham Idris menghabiskan hari-harinya dengan tangan yang akrab dengan noda logam dan cairan pembersih, menggosok cincin-cincin perak milik pelanggan agar kembali berkilau.
Namun, pada Sabtu pagi, 11 April 2026, kilau itu tidak datang dari permukaan logam di lapaknya, melainkan dari panggung Aula Nuku, Kampus I Universitas Khairun (Unkhair). Putranya, Adib Masraf Ilham, berdiri dengan toga hitam, menyandang predikat sebagai wisudawan terbaik Program Studi Teknik Mesin.
Adib bukan sekadar lulus; ia menuntaskan studinya dengan angka yang nyaris sempurna, IPK 3,98, dalam waktu singkat: tiga tahun enam bulan.
Menempa Disiplin di Waktu Subuh
Bagi Adib, keberhasilan akademiknya bukan hasil dari sebuah kebetulan. Tumbuh besar melihat ketekunan sang ayah di lapak perak, ia belajar bahwa keteguhan adalah kunci. Sejak semester awal, Adib telah mengunci satu rutinitas yang mungkin terdengar membosankan bagi anak muda seusianya: disiplin waktu yang ketat.
“Bangun selepas subuh, lalu belajar ketika dunia masih setengah terlelap,” tuturnya mengenang masa-masa kuliah.
Di jam-jam sunyi itulah, ia merasa pengetahuan lebih mudah menetap di kepalanya.
Sebagai mahasiswa teknik, hari-harinya dipenuhi dengan laporan praktikum yang menumpuk dan malam-malam panjang di laboratorium. Namun, keterbatasan ekonomi justru menjadi bahan bakar. Melalui beasiswa Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP-K), Adib membuktikan pendidikan adalah jembatan paling kokoh untuk keluar dari lingkaran keterbatasan.
Dari Poster Nasional hingga Magang Industri
Prestasi Adib tidak hanya terukir di atas kertas transkrip nilai. Namanya kerap bergema di kancah nasional, mulai dari juara desain poster hingga penghargaan desain orisinal. Ia juga aktif dalam forum penerima KIP-K nasional dan terlibat dalam tim riset universitas.
Dunia industri pun telah dicicipinya. Pengalaman magang di perusahaan tambang dan kawasan industri besar di Halmahera memberinya perspektif nyata tentang dunia teknik yang ia geluti. Namun, meski telah menjejakkan kaki di industri besar, ia tak pernah lupa pada akarnya di sudut terminal.
Sentuhan kemanusiaan itu ia tuangkan dalam tugas akhirnya. Adib merancang desain garbarata untuk pelabuhan speedboat, sebuah inovasi yang lahir dari pengamatannya terhadap risiko keselamatan bagi lansia saat hendak menyeberang laut. Sebuah karya yang berangkat dari realitas lokal Maluku Utara.
Menatap Cakrawala Jerman
Kini, setelah resmi menyandang gelar Sarjana Teknik, pandangan Adib mulai melampaui garis cakrawala Pulau Ternate. Ia sedang mempersiapkan diri untuk membidik beasiswa ke Jerman, negara yang menjadi kiblat teknologi mesin dunia. Kursus TOEFL dan berkas-berkas aplikasi mulai ia susun dengan teliti.
Meski mimpinya kini melambung tinggi, Adib tetaplah pribadi yang rendah hati. Pesannya bagi mahasiswa lain sangat sederhana, “Jangan takut revisi, atur waktu, dan libatkan Tuhan.”
Kisah Adib adalah pengingat bahwa mimpi tidak memilih tempat untuk tumbuh. Ia bisa lahir dari tangan seorang pengrajin perak di pinggiran terminal, lalu berkembang melalui ketekunan, hingga akhirnya bersinar di panggung kehormatan. Dari Ternate, ia kini bersiap membawa kilau “perak” itu ke panggung dunia.


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.