Oleh: Sitti Nurliani Khanazahrah, M.Ag
Penulis, Dosen, Pegiat Filsafat
_______
MENJELANG Ramadan, saya selalu merasa perlu merapikan ulang cara saya memandang diri sendiri. Sebab sering kali yang membuat kita gagal menjalani satu bulan ini bukan karena kita tidak kuat menahan lapar, tetapi karena kita salah memahami siapa diri kita sebenarnya.
Kita hidup dalam zaman yang terlalu mudah menganggap diri sebagai pusat. Kita merasa bisa mengatur ritme hidup dan menata ambisi, bahkan mengelola emosi seolah-olah semuanya berada dalam kendali penuh. Lalu kita menyebutnya kedewasaan, kemandirian dan profesionalisme. Tetapi jarang sekali kita bertanya sejauh mana kendali itu sungguh-sungguh milik kita?
Beberapa jam tanpa makan saja sering kali cukup untuk membuat kesabaran kita menipis. Konsentrasi terganggu. Emosi lebih mudah naik. Dan di situ saya mulai melihat bahwa Ramadhan ternyata bukan sekadar latihan moral, tetapi lebih sebagai koreksi ontologis. Ramadhan mengingatkan bahwa manusia bukanlah makhluk otonom yang berdiri di atas dirinya sendiri. Kita adalah makhluk yang rapuh, yang kesadarannya terjalin erat dengan tubuh, dengan kebutuhan dan dengan kondisi.
Maka bekal pertama yang ingin saya bawa memasuki Ramadan kali ini adalah kesediaan untuk mengakui keterbatasan itu, bukan sebagai kelemahan yang memalukan, tetapi lebih sebagai struktur dasar keberadaan saya. Saya tidak ingin memasuki bulan ini dengan ilusi bahwa saya akan menjadi lebih kuat dari sebelumnya. Justru saya ingin masuk dengan kesadaran bahwa saya memang terbatas sejak awal. Karena mungkin dari pengakuan itulah ketenangan bisa lahir.
Bekal kedua adalah disiplin untuk memperlambat penilaian. Kita terlalu cepat menilai orang lain. Siapa yang lebih saleh, siapa yang kurang khusyuk, atau siapa yang sekadar simbolik. Padahal kesadaran kita sendiri sering kali dipengaruhi oleh rasa lapar dan kelelahan, bahkan oleh suasana hati. Jika rasio kita saja tidak sepenuhnya stabil, lalu atas dasar apa kita begitu yakin dalam menghakimi?
Dalam hal ini saya belajar bahwa puasa bukan hanya menahan makan dan minum, tetapi juga menahan klaim kebenaran atas orang lain. Kerendahan hati bukan sikap sosial semata, melainkan konsekuensi dari kesadaran bahwa pengetahuan kita selalu berada dalam kondisi yang tidak sempurna.
Bekal ketiga adalah kebesaran hati untuk jujur pada diri sendiri. Ramadan sering kali menjadi panggung kesalehan. Kita mudah memperlihatkan ayat-ayat atau kutipan serta aktivitas ibadah. Tetapi yang lebih sulit adalah bertanya dalam sunyi bahwa apakah saya benar-benar berubah, atau hanya sedang memperbaiki citra diri? Apakah saya mencari kedekatan dengan Tuhan, atau sekadar rasa aman bahwa saya sudah tergolong orang-orag yang taat?
Saya pribadi tidak ingin Ramadan menjadi perayaan simbol. Saya ingin ia menjadi ruang pembongkaran, terutama terhadap kesombongan yang halus seperti kesombongan merasa sudah cukup baik, dan sejenisnya.
Dan yang terakhir, saya ingin membawa satu kesadaran bahwa Ramadan bukan proyek peningkatan diri dalam logika modern yang serba kompetitif. Ia bukan tentang menjadi “versi terbaik” dalam arti performatif. Ramadan lebih sebagai latihan untuk kembali pada posisi dasar manusia sebagai makhluk yang bergantung. Bergantung pada rahmat, pada waktu dan pada kesempatan yang tidak selalu kita miliki.
Saya berharap…barangkali saja jika kesadaran ini bisa saya jaga sepanjang bulan, maka Ramadan tidak akan sekadar lewat sebagai kewajiban yang ditunaikan. Ia akan menjadi cermin yang setiap hari memperlihatkan siapa saya sebenarnya. Tanpa hiasan. Tanpa klaim. Dan tanpa ilusi kemandirian.
Selamat menyambut bulan suci Ramadan 1447 Hijriah. Semoga kita diberi kejernihan untuk mengenali batas diri dan keluasan hati untuk menerima rahmat-Nya. (*)


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.