Tandaseru – Di bawah kanopi hutan Sambiki Tua yang rimbun, suara burung-burung endemik Maluku Utara bersahutan menyambut pagi. Bagi Miraji Nyimo, pria berusia 58 tahun ini, melodi alam tersebut adalah alarm alami yang memanggilnya untuk segera beranjak. Selama puluhan tahun, sebelum matahari benar-benar menyentuh ufuk, ia sudah bersiap menaklukkan tantangan: menembus belantara demi menghidupi keluarga.

Namun, ada yang berbeda dengan langkah kakinya belakangan ini. Beban di pundaknya terasa lebih ringan, bukan karena hasil panen yang berkurang, melainkan karena akses yang selama ini ia impikan telah nyata di depan mata.

Penantian Panjang di Balik Semak Belukar

Selama bertahun-tahun, Miraji dan puluhan petani lainnya di Desa Sambiki Tua dan Sambiki Baru, kabupaten Pulau Morotai, harus bergelut dengan medan yang tak ramah. Jarak berkilo-kilometer dari kampung menuju kebun harus ditempuh dengan jalan kaki menyusuri jalan setapak sempit yang kerap tertutup rimbunnya semak belukar.

Miraji Nyimo (kiri) saat memantau pekerjaan jalan tani. (Istimewa)

“Dulu jalan itu mengecil, tertutup rumput dan pohon. Kami sangat kesulitan,” kenang Miraji dengan dialek lokal yang kental.

Tantangan fisik itu tidak pernah mematahkan semangatnya. Baginya, bertani bukan sekadar profesi, melainkan investasi masa depan. Terbukti, dari tetesan keringat di kebun dan laut, Miraji berhasil mengantarkan kelima anaknya meraih gelar sarjana hingga menjadi pegawai.

Jantung Kehidupan Sepanjang 1,5 Kilometer

Harapan besar para petani ini akhirnya terjawab. Melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Pulau Morotai, sebuah jalan tani akhirnya direalisasikan. Menariknya, dari target awal 1 kilometer, pemerintah memberikan tambahan hingga mencapai 1,5 kilometer, menembus hingga ke area perkebunan terjauh di lokasi bernama Loloti.

“Alhamdulillah, kami bersyukur. Jalan ini adalah jantung kehidupan kami. Sekarang, sepeda motor pun sudah bisa naik ke kebun, meskipun medannya perbukitan tinggi,” ujar Miraji dengan mata berbinar.

Jalan tani yang kini dapat digunakan petani Pulau Morotai. (Istimewa)

Bagi warga setempat, kehadiran jalan ini adalah kemerdekaan kecil. Kelapa kopra, pisang, rica (cabai), hingga tomat kini lebih mudah diangkut ke pasar tanpa harus menguras tenaga ekstra untuk memikulnya berkilo-kilometer.

Warisan Semangat untuk Generasi Muda

Meski anak-anaknya kini telah sukses, Miraji belum mau berhenti. Baginya, tanah Sambiki adalah ladang berkah. Ia ingin membuktikan kepada generasi muda bahwa menjadi petani adalah jalan hidup yang menjanjikan, asalkan dibarengi dengan inovasi dan ketekunan.

“Jangan menyerah. Menjadi petani itu punya peluang masa depan yang cerah. Syukuri nikmat sekecil apa pun, jangan mengeluh,” pesannya dengan nada bijak.

Kini, setiap sore sebelum matahari terbenam, Miraji pulang dengan senyum yang lebih lebar. Ucapan terima kasih tak henti ia tujukan kepada Pemerintah Daerah dan Bupati Pulau Morotai. Jalan tanah yang baru dibuka itu bukan sekadar infrastruktur, melainkan jembatan yang menghubungkan harapan petani dengan kesejahteraan yang lebih nyata.

Di Sambiki, kini perjalanan menuju “kobong” (kebun) tak lagi menjadi ajang uji nyali, melainkan sebuah perjalanan penuh syukur. Seperti kata Miraji, “Torang so tara sengsara saat pergi kobong“—kami tidak lagi menderita saat pergi ke kebun.

Ika Fuji Rahayu
Editor
Irjan Rahaguna
Reporter