Tandaseru – Warga Desa Leo Leo, Kecamatan Pulau Rao, Kabupaten Pulau Morotai, mengeluhkan kondisi infrastruktur tambatan perahu yang mangkrak selama lebih dari 10 tahun. Masyarakat kini menaruh harapan besar kepada Bupati Rusli Sibua dan Wakil Bupati Rio Christian Pawane untuk menuntaskan pembangunan yang sempat terhenti tersebut.

Proyek milik Dinas Perhubungan Provinsi Maluku Utara ini pernah diusulkan perbaikannya berulang kali namun tak pernah direalisasikan.

Akses Vital Ekonomi Rakyat

Tambatan perahu tersebut merupakan urat nadi ekonomi bagi warga Leo Leo, terutama untuk aktivitas nelayan dan pengangkutan hasil bumi seperti kopra. Akibat tidak berfungsinya fasilitas ini, warga terpaksa menempuh jarak yang jauh untuk mengakses transportasi laut.

“Sudah lama sekali tidak selesai. Padahal ini kebutuhan kami untuk pergi memancing dan menjual kopra. Sekarang kami harus bergantung ke Pelabuhan Posi Posi yang jaraknya sekitar 10 kilometer,” ujar Mates, salah satu nelayan setempat, Rabu (31/12/2024).

Harapan pada Pemerintahan Baru

Kepala Desa Leo Leo, W. Tamahiwu, membenarkan bahwa proyek tersebut sudah mangkrak lebih dari satu dekade. Ia menyayangkan usulan pembangunan yang sempat diajukan di era pemerintahan sebelumnya namun tidak mendapat respons positif.

“Kami sudah usulkan di zaman Pak Benny Laos, tapi tidak digubris. Padahal Leo Leo adalah desa terbesar di Pulau Rao. Kami sangat berharap Bupati Rusli Sibua bisa menindaklanjuti hal ini karena menyangkut hajat hidup orang banyak,” tegas Tamahiwu.

Hingga saat ini, kondisi tiang-tiang pancang tambatan perahu tersebut kian memprihatinkan karena dimakan usia dan cuaca tanpa ada tanda-tanda kelanjutan pembangunan.

Ika Fuji Rahayu
Editor
Irjan Rahaguna
Reporter